Eloktenan's Blog

Membaca, melihat, merasa, mendiskusikannya bersama elok

Arisan Sapi

Masih lekat di ingatan, aku memakai baju rapi jali, tapi aku benci setengah mati. Ya benci karena baju itu serupa rok yang dipakai putri-putri yang biasa aku lihat di buku dongeng, terlalu rapi, penuh renda dan bahan yang tidak menyerap keringat, hah,,, pokoknya aku gerah, aku lebih bersyukur bila diperbolehkan mengenakan kaos oblong pujaanku dan jeans atau jika terpaksa harus rok, minimal yang berbahan katun dan tidak berlengan panjang, satu lagi, tidak pakai sepatu dan kaos kaki, tetapi sepatu sandal Bata andalanku, ah leganya….

Tapi mana mungkin nenekku merelakannya!

Ya benar, nenekku saja sudah berdandan luwes dan ayu seperti penyanyi keroncong, rambutnya disanggul, mengenakan kalung yang aku tak tahu benar apakah emas asli atau imitasi, menjuntai “stand out” di dadanya, semakin indah karena ada liontin berwarna merah. Pokoknya cantik sekali. Jangan sangsi dengan usianya yang sudah aku panggil nenek, menurutku beliau masih seksi, seksi di usia senja tepatnya, mengenakan kebaya merah jambu, tidak norak kok karena kulitnya terang, giginyapun rapi, putih bersih meski palsu, khususnya yang bagian depan. Untuk yang satu ini, kata ibuku, nenekku rela puasa asalkan dia bisa membeli gigi palsu putih itu. Semua lengkap dengan kain panjang dan selendangnya yang serasi.

Maka dituntun olehnya aku menaiki sebuah truk besar, yang bagian atasnya tertutup semacam terpal tebal berwarna hijau tua. Kami bergabung dengan ibu-ibu yang ternyata semuanya juga memakai kebaya, seingatku yang ketika itu kelas 3 SD, Semua ibu-ibu itu berkebaya dan memakai selop tinggi, tetapi mereka dengan mudahnya menaiki tangga truk yang sempit itu, tampak seperti telah biasa
melakukannya. Kemudian kami duduk rapi di dalamnya berhadapan kanan dan kiri, tahukan kamu rasanya? Teramat amat sangat gerah sekali. Ditambah suara tangisan beberapa anak yang menangis minta turun, campur aroma minyak wangi, menyengat. Serasa aku sudah mau muntah saja, di kantong plastik yang aku selipkan di saku rokku yang terlihat bak putri ini.

Sepanjang perjalanan, semua Ibu-ibu itu asyik bercerita, sesekali melebarkan kipas lipatnya yang bearoma cendana, ada juga yang menyeka peluhnya dengan sapu tangan. Sesekali ada yang menanyakan aku kepada nenekku, “ cucunya ya bu Tini? Lucu sekali, rambut, matanya, pipinya putih seperti anak Cina, “.

Sesekali mereka mencubit pipiku gemas. Anehnya, nenekku menjawab, “ya dia memang cucuku yang dari Cina”. Meski masih kanak-kanak aku tentu tak bisa dibohongi, mana mungkin aku anak Cina? Jelas-jelas bapak-ibuku Jawa?” ketika aku tanya kepada nenek, “nek kenapa aku dibilang anak Cina? dengan entengnya beliau berkata, ya, karena kamu mirip anak orang kaya, biasanya anak orang kaya kulitnya putih mirip anak Cina”

ah..nenek ada-ada saja

Beberapa menit kemudian sampailah aku di tujuan, ya aku memasuki komplek tentara, markas tentara tepatnya, luas betul areanya, maklumlah ada beberapa tank dan truk tentara di parkir disana, lengkap dengan lapangan hijaunya yang luas, pohon berbaris rapi, lengkap dengan beberapa halang rintang, dan papan luncur tinggi untuk beberapa tentara berlatih, kalau tidak salah serupa wall climbing yang aku lihat di mal-mal atau stadion tempat mangkal anak muda jaman sekarang.

Sesekali lewat barisan tentara tengah berlari sambil bernyanyi “ ayo lari…ayo lari… tiap hari..tiap hari…badan sehat….” Ah aku lupa kelanjutannya.

Sebelum memasuki area, seperti biasa kami melewati tentara yang seperti biasa aku lihat di kaleng Biscuit Monde, diam tidak bergerak , hanya saja ini berwarna hijau seragamnya, lengkap dengan helm dan senjata. Setelah melewati pos jaga, tidak susah bagi kami untuk memasuki area mengingat kendaraan yang kami tumpangi adalah truk tentara.

Hari itu aku turut serta dengan nenek untuk mengikuti arisan, kakek sudah berada di sana dari pagi, ketika berangkat kerja. Kami menyusulnya sekira 3 jam sesudahnya, tidak susah bagi kami berkumpul karena kami semua tinggal di asrama tentara. Kakek bukan tentara, lebih tepatnya di bagian administrasi untuk melakukan inventarisasi kendaraan besar, semacam bengkel tentara. Tetapi kakek tetap dapat asrama dan tinggal disana.

Ketika liburan, aku “dikirim” ke rumah nenek dan tinggal beberapa hari disana. Di asrama aku biasa menghabiskan waktu, bermain-main dengan teman kecilku, diantara truk-truk tua yang sudah tidak beroperasi, bau pesing kotoran kelelawar, oli, solar dan beberapa minyak pelumas aku masih ingat.

Aku bisa puas naik mobil-mobil besar itu, berpura-pura mengendarainya serasa ikut perang, tidak ada sedikitpun kengerian meski ban mobilnya saja sebesar badanku, atau deretan kelelawar yang menggantung diam tapi lumayan banyak diatas kepalaku, langit-langit garasi cukup tinggi, tempatnya juga tidak terlalu terang, tampak sinar matahari menerobos diantara genting berlumut, suasananya adem, angin semilir, sesekali segerombolan burung gereja hinggap mendekat dan bila kami berteriak suara kami bergema, hai…hai..hai…ai..i….kamu…mu…mu…uu..

Buat kami, yang ada hanya perasaan bermain yang seru. Kalau tiba-tiba perut mulas atau sekedar ingin buang air kecil, maka dengan mudahnya kami berlari ke sungai yang mengalir jernih. Tidak jauh dari garasi kendaraan-kendaraan tua itu.

Siang itu nenekku dan beberapa ibu-ibu di asrama tentara, akan melakukan arisan, arisan sapi namanya. Seperti arisan panci yang hasilnya adalah panci, maka kata nenekku, dinamakan arisan sapi karena memang hasilnya adalah sapi, ya daging sapi yang akan dibagi-bagi. Sapi yang gemuk itu sudah menunggu di lapangan belakang. Aku bertemu kakekku, mencium tangannya, untuk kemudian beliau mengantarku melihat lebih dekat sapi itu.

Sementara itu, nenekku dan ibu-ibu berkebaya itu masuk ke hall, untuk menghadiri acara, persisnya aku tidak tahu, semacam pengarahan mungkin atau silaturahmi istri-istri tentara, entahlah. Karena aku tidak betah di dalam, sesudah menghabiskan puding yang diberi oleh nenekku, pikiranku sudah tidak sabar untuk melihat sapi yang kata kakekku mau disembelih itu.

Benar saja, ketika aku telah di lapangan kembali, Sapi itu sudah tergeletak, melenguh tidak berdaya, keempat kakinya dijerat, sehingga mau tidak mau tumbanglah dia, pasrah menunggu jagal yang siap menyembelih lehernya. Setelah doa, maka cuuurrrr….. darah dari leher sapi itu mengucur dengan derasnya, berkelejat-kelejat beberapa lama untuk kemudian tidak bergerak-gerak lagi, aku ngeri tapi tidak berpaling, sesekali menutup wajah dengan jari, tetapi jari menutup tidak rapat benar. Sapi yang tak bernyawa itu dibersihkan persis disamping sungai kecil yang mengalir dan jernih, lagi sejuk airnya, sesekali aku ikut-ikutan, mengambil potongan babat, mengeluarkan isinya yang tidak lain adalah kotoran sapi. Barulah aku tahu bahwa babat goreng atau soto yang enak itu tidak lain adalah tempat kotoran sapi hi2..

Sebentar kemudian, sapi gemuk yang telah dikuliti itu, pun sudah terbagi-bagi, ada dagingnya, kepala, kaki, ekor, hingga jerohannya; babat, usus, hati, paru dll.

Aku tidak tahu, sementara beberapa orang membagi-bagi daging sapi, ternyata ada beberapa bagian yang telah dimasak gulai sapi, maka tak lama kemudian, nenek memanggil aku untuk masuk hall, kakekku sudah terlebih dahulu disana. Di dalam hall aku disuapi nasi gulai sapi, tambah krupuk udang, hmm… nikmat sekali.

Tibalah waktu kami untuk kembali, kali ini truk lebih sesak karena beberapa suami turut serta, sebagian besar tentara, hanya sedikit yang berpakaian seragam sipil seperti kakekku. Tampak berseri kulihat wajah keluarga-keluarga itu, tak lupa masing-masing menenteng kantong berisi daging sapi. Kata nenekku, sapi itu adalah buah dari gotong-royong dan sikap sabar para keluarga itu, mereka menyisihkan dan mengumpulkan uang untuk beberapa lama, barulah kalau sudah cukup dibelikan sapi, karena dengan cara begitulah keluarga-keluarga sederhana di asrama itu bisa menikmati nikmatnya makan daging sapi.

Bagiku daging sapi itu menjadi istimewa sekali, bagaimana tidak, sepulang dari arisan sapi, maka nenekku bisa memasak dendeng, gulai dan beberapa masakan lain yang berbahan daging sapi, selama beberapa hari. Demikian juga beberapa tetangga di asrama itu tentunya.

Seingatku, asrama tentara itu adalah rumah yang berjejer padat dan disekat, penerangan seadanya, bahkan rumah antara keluarga satu dan lainnya hanya berbatas tembok dengan genting tanpa plafon, sehingga bila aku menangis nenek akan berkata padaku, “apakah kamu tidak malu, didengar tetangga sebelah?”. Benar saja, beberapa menit kemudian suara tetangga terdengar, “hayooo siapa itu yang menangis? “ …. Ah aku biasanya menjadi malu dan tangisku berhenti sendiri.

Demikian pula bila tiba waktu mandi, jangan bayangkan rumah yang berjejer itu memiliki kamar mandi sendiri-sendiri, apalagi seperti kamar mandi di rumah-rumah mewah jaman sekarang, yang ada kamar mandinya di dalam kamar tidur. Aih tidak seperti itu, kamar mandi itu tampak besar sekali, dengan bak mandi yang tentu juga besar. Airnya jernih, dinginnya seperti air dari kulkas. Tidak ada sekat selain terpisah bangunan untuk lelaki dan wanita, selanjutnya semuanya biasa mandi dan bugil bersama-sama, sesuai jenis kelaminnya. Sesudah mandi mereka akan berkalung handuk, menenteng baju kotor, dan timba kecil berisi peralatan mandi. Semuanya serba amat sederhana kalau tidak disebut terbatas.

Maka mengertilah aku kini, kenapa dulu nenek dan ibu-ibu di asrama itu, harus arisan berbulan-bulan dulu untuk menikmati daging sapi.

Kini bahkan setelah dua puluh tahun lebih, aku masih teringat tentang rumah tentara, juga arisan sapi.

Suatu pagi aku melewati perumahan yang tampaknya deretan rumah tentara juga. Tapi ini agaknya beda, masing-masing tanah rumahnya hampir seluas lapangan bola, kendaraan yang hilir mudik, pun tak kalah mewah, berplat khusus tidak seperti plat mobilku.

Aku bertanya dalam hati, “apakah tentara yang ini juga ikut arisan sapi ?”

Cibubur, Kamis, 4 Maret 2010

4 Komentar»

  dian widiyanarko wrote @

halo mbak numpang komen hehe
mbak blognya menarik..unik..

  eloktenan wrote @

matur nuwun :)

  humbermania defoc 0905 wrote @

Tulisan yang menarik mbak elok.Bicara Arisan sapi,saya teringat kegiatan-ibu2 bapak2 di komplek kami menjelang perayaan idul qurban.Setahun sebelum ‘D-Day” kami mengadakan arisan sapi(dalam hadist disebutkan bahwa 1 ekor sapi bisa ditanggung oleh 7 pengqurban).Untuk ritual ini biasanya 2-3 kelompok.Bagi yang mampu tentunya 1 orang 1 sapi.Hanya 2 tahun belakangan ini,ritual arisan sapi ini mulai berkurang peminatnya,Kondisi perekonomian mungkin,inflasi yang terus naik.Tapi ndak apa2.Hanya yang jadio pemikiran saya jumlah hewan qurban terlalu banyak untuk sebaran yang tidak seberapa banyak.Ada upaya untuk pemerataan,semacam DD republika yang menebar hewan qurban keseluruh pelosok negeri.
Dan repotnya lagi jika saya tidak ikut dalam arisan sapi ini ada rasa nggak enak,meski malu2 saya titip pesan ke pengurus masjid bahwa saya qurban ditempat lain.Salam

  eloktenan wrote @

he2… ini saya menulisnya, terinspirasi lihat rumah2 mewah yg katanya rumah pk jendral, saya kolaborasi dgn memori ketika masih sekitar kelas 5 SD. Saya menulisnya dgn gembira meski mengingat detail kadang tidak mudah. maturnuwun commennya humbermania :)


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.