Lagi-lagi masalah komunikasi, niat baik, hati nurani, kepekaan sosial atau apalah segudang istilah lainnya yang lebih tepat menjadi ungkapan, sehingga menimbulkan keresahan seorang anak manusia, Fitria namanya.
Malam itu sekali lagi Fitria mengingatkan Ibunya, “Bu besok sudah hari terakhir mengumpulkan sumbangan untuk Hari Raya Qurban lho” , pintanya dengan sedikit keraguan bercampur harapan yang tersisa, kalau-kalau Ibunya memberi jawaban yang lain daripada seminggu yang lalu, ketika pengumuman tentang sumbangan dalam rangka peringatan Hari Raya Qurban atau Idhul Adha di sekolah Fitria, dia sampaikan pada ibunya.
Tetapi tampaknya Fitria tak bisa berharap banyak, mengingat kali ini jawaban ibunya pun serupa dengan sebelumnya, “ Iya, Fit, nanti Ibu tanya lagi sama bapakmu, lagian sekolahmu ada-ada saja sich, nyumbang dimana-mana bukannya sukarela, ini malah disebutin Rp 50,000 mana keperluan lagi pada ngantri begini, kok ada-ada aja sich sekolahmu itu, ya sudah tidurlah nak, nanti malam kalau bapak pulang coba ibu tanyakan lagi, kalau bapak sudah ada duitnya, besok pagi-pagi Ibu sediakan di meja makan, kalau belum ada juga, ya coba nanti kita pikirkan lagi”
Ah sungguh jawaban yang kurang melegakan buat Fitria. Pun alasannya, apakah karena jumlah sumbangan yang ditentukan sekolah atau karena uang Rp 50,000 itu terasa memberatkan bagi kedua orang tuanya.
Fitria benar-benar menjadi buntu. tidak terima keadaan, kenapa untuk menyumbang senilai Rp 50,000 itu, tidak semudah teman-teman lainnya di sekolah. Sebenarnya dia tidak begitu buta untuk merasakan apa sebenarnya yang menjadi kendala, ya, uang itu, besarnya sumbangan itu.
Meski Ibunya tempo hari sempat bilang padanya” duh Fit, sebenarnya ya Ibu ini senang-senang saja, kalau bisa menyumbang untuk patungan beli kambing atau sapi dan disembelih di sekolahmu. Masak iya sih keberatan, kalau dipikir-pikir uang Rp 50,000 itu kan rasanya masih bisa dan mampu lah kita, sepeda motor masih punya, biar sederhana makan juga kita nggak pernah telat. Tapi memang keadaan lagi mendesak nak, ini Ibu juga siang malam ngerjain pesanan jahitan, nanti hasilnya juga udah antri untuk bayar buku kakakmu, coba ya nak, sabar saja, siapa tahu besok bapak ada rejeki”.
Untuk itu kadang-kadang Fitria mahfum dengan segala informasi yang dia terima dari Ibunya, tentang uang, tentang kebutuhan dan tentang perihal lainnya apabila Fitria mempunyai keinginan, apakah keinginannya sendiri atau yang sifatnya perintah dari sekolahnya misalnya.
Tetapi menjadi ABG ( anak baru gede) dengan segudang teman dan latar belakang yang beragam itu, tak ayal kadang membuat Fitria gamang. Dia tidak cukup percaya diri untuk berlaku tidak sama dengan teman-temannya. Termasuk kali ini, ketika status pembayaran uang sumbangan Qurban dari sebagian besar teman kelasnya sudah terbayar, tetapi tidak demikian dengan Fitria.
“ah sudahlah, aku tidur saja”. gerutu Fitria dalam hatinya yang sedang gundah. Sebelum tertutup matanya masih sempat dia berujar ” Ya Allah semoga Kau mudahkan rejeki untuk Bapakku, supaya besok pagi aku bisa bayar sumbangan Qurban, aku malu ditanya Pak guru melulu” tanpa terasa pipi Fitria terasa panas, beberapa butir air mata meleleh di pipinya. Kemudian dia terlelap.
Seperti kakaknya, Fitria memang lumayan encer otaknya, sehingga keduanya bisa diterima di sekolah favorit di kawasan Jakarta Selatan, segudang predikat indah dimiliki sekolahnya, mulai berstandar international, sekolah percontohan, sampai sekolahnya anak orang kaya.
Nah yang terakhir ini agaknya, dampak signifikan dari sekolahnya yang bermutu, maksudnya karena sekolahnya adalah gudang anak pintar dan kurikulum berkualitas, maka orang kaya pun berbondong-bondong untuk menyekolahkan anaknya di sana. Adapun Fitria, bisa diterima di sekolah itu karena nilainya masuk kriteria, perihal orang tuanya yang tidak kaya, bapaknya pernah berkata, “ Fitria kita boleh tidak kaya, tapi jangan kecil hati nak, yang penting kamu sekolah dan belajar yang rajin, bapak berusaha keras, agar kelak kamu jadi “orang” , maksudnya jadi orang adalah jadi manusia sukses dan berguna.
Hanya saja, di sekolah berpredikat baik yang orang kayanya mayoritas itu, kegiatan lain-lainya juga menjadi indah dan dilaksanakan dengan seksama, termasuk perayaan Hari Raya Qurban dengan minta sumbangan dari murid-muridnya.
Menjadi kendala buat Bapak Fitria, karena ternyata pada saat yang sama, sedang tidak manis kondisi keuangannya, gaji dari kantor beberapa bulan telat, berbarengan dengan kebutuhan sekolah kakaknya, jadwal bayar kontrakan dll, semuanya juga membuat Ibunya pening kepala, meski ibunya tergolong masternya dalam berhemat dan mengolah gaji Bapak Fitria supaya cukup hingga saat gajian kembali datang.
Pagi itu Fitria telah rapi dengan seragam sekolahnya, bersiap-siap berangkat dan mengambil tas sekolahnya, tetapi sebelum dia berpamitan dan mencium tangan kedua orang tuanya, hatinya jadi lemas, serasa hari itu tidak bergairah, demi melihat di meja makan tidak ada uang yang dijanjikan ibunya semalam.
“ Coba kamu tanya gurumu Fitria, apakah boleh menyumbang sukarela ? kalau kurang dari Rp 50,000 bagaimana?” Kalimat itu keluar dari mulut bapaknya yang sedang siap-siap ke kantor sembari memanaskan mesin sepeda motornya.
“ Ah bapak, aku malu, aku nggak mau, bapak aja yang bilang pak guru, masak Rp 50,000 nya nggak ada, kan sudah dikasih waktu seminggu? “ setengah menangis Fitria merengek pada bapaknya, buru-buru dia usap air matanya, khawatir matanya terlihat sembab oleh teman-temanya di sekolah.
“Coba kamu bilang dulu Fitria? “ jawab bapaknya datar. Sejatinya hancur perih pula hati bapaknya melihat putrinya harus menanggung rasa, gelisah hati, merengek dan harus tabah, untuk uang yang sepertinya hanya Rp 50,000 itu, tapi apa daya hari itu dia benar-benar tidak bisa memberikannya.
Akhirnya dengan langkah gontai dan semangat layu, Fitria menguatkan diri untuk berangkat ke sekolah.
Sesampainya di sekolah, pesan dari bapaknya dia pertimbangkan untuk disampaikan kepada gurunya, tetapi niat itu menjadi runtuh, Fitria mencoba mengumpulkan segala tekad dan keberaniannya, tetapi ah,..dia lihat semua teman-temanya tengah membayarkan sumbangan itu dan tak jauh dari meja Pak Guru ada Ikhsan! Ya Ikhsan, teman sekelas yang cukup menaruh perhatian padanya dan begitupun sebaliknya.
“ Apa jadinya kalau Ikhsan tahu, masak nyumbang 50,000 aja tidak mau, pelit amat ? “ atau “ ah nanti Ikhsan jadi iba padanya? Mana mungkin lagi naksir orang dan orangnya jadi Iba? Aaaarrgghhhhh…..” Fitria bingung bukan kepalang dan dengan berat hati dia tidak menuruti pesan bapaknya. Yang bisa dilakukannya hanya diam saja, pasrah hingga nanti ditanya gurunya.
Tetapi prediksi Fitria meleset, dia tidak dipanggil oleh Gurunya, tapi buat Fitria akibatnya lebih dasyat dari itu.
Tanpa dinyana-nyana, seusai sholat dhuhur, terdengar pengumuman dari gurunya tentang rencana kegiatan Hari Raya Qurban, termasuk di beberapa menit sebelum Guru mengakhiri pengumumannya adalah menyebutkan nama beberapa anak yang belum membayar sumbangan.
Fitria yang tengah merapikan peralatan sholatnya, kaget tidak menyangka, dia tak kuasa menatap tatapan teman-temannya, meski teman-temannya tak berkata apa-apa, tetapi buat Fitria sudah serupa ratusan mata menghakimi dan mengejeknya, jangankan Ikhsan, atau teman sekelasnya, bahkan sholat dhuhur itu diikuti seluruh murid kelas satu dan dua.
Fitria tertunduk malu, serasa memerah mukanya, dadanya bergemuruh, berkecamuk hatinya, campur aduk tidak beraturan, antara berusaha memahami kondisi orang tuanya, dengan menahan perasaan, karena kondisinya tidak sama dengan kebanyakan temannya. Saat itu yang mendominasi hatinya tidak ada lain selain malu.
Disaat itu juga, Fitria meraih handphone esianya, mengirim sms pada bapaknya, “Bapak tolongg…banget… kapan sumbangannya bisa dibayar? Aku malu, siang ini diumumkan di masjid sekolah, aku malu bapak, aku malu” dan tak lupa dia tambahkan tanda cemberut di akhir pesan singkatnya.
Di saat yang sama, Bapaknya membaca pesan dari anaknya, “ Astagfirullah… gumamnya, apa iya sekolah itu benar-benar tidak bisa bijaksana, emosi seraya hinggap di ruang hati Bapak Fitria. Maka seusai mengantar dokumen tugas kantornya, Bapak Fitria segera menuju sekolah anaknya, sesampainya disana, dia temui guru sesuai keterangan anaknya, tanpa sepengetahuan Fitria.
Bapaknya menjelaskan duduk persoalannya, sesudah itu Bapak Fitria tampak benar-benar pasrah.
“ Apapun yang akan terjadi dari sekolah, terjadilah, tetapi jangan sekali-kali membuat hati anakku ciut, menciutkan hatinya tidak jauh beda dengan menghancurkan hati putri kesayanganku dan aku bapaknya tidak sedikitpun akan rela” demikian pikirnya
Beberapa menit selanjutnya, Bapak Fitria terperangah mendengar keterangan dari Guru anaknya.
“ Ohh… Masya Allah, baik,..baik Pak, tidak menjadi masalah, bahkan kami tidak haruskan menyumbang sama sekali, jika demikian kondisinya. Saya justru berterima kasih kalau bapak terus terang begini, saat ini selain akan menyembelih hewan Qurban, kami juga menerima bantuan dari Pemerintah sebesar Rp 25 juta rupiah untuk disalurkan kepada murid-murid yang dalam kondisi ekonomi lemah asalkan ada keterangan tidak mampu dari RT dan RW. Tetapi program ini hingga kini belum berjalan lancar karena tidak banyak yang mengajukan, apakah bapak perlu kami catatkan untuk menerima bantuan tersebut? “
Sesaat Bapak Fitria terkesima, tapi buru-buru dijawabnya “ Terima kasih pak, Saya mohon maaf bila tidak turut serta dalam pembelian hewan Qurban di sekolah Fitria kali ini, tetapi sumbangan itu saya rasa tidak untuk kami, biarlah yang lain mungkin lebih membutuhkannya, saya sudah cukup terima kasih atas pengertian bapak tentang sumbangan hewan Qurban”
Bapak Fitria kemudian kembali ke kantor, di sepanjang perjalanan, di atas sepeda motor bututnya, dia tak habis pikir seraya bergumam “ bodoh betul itu pak guru, mendata muridnya yang tidak mampu saja, menemui kesulitan atau karena yang mau di beri sumbangan pada gengsi? nggak mau repot minta surat keterangan? Buktinya aku tadi ditawari juga tidak mau? Apa aku gengsi juga? Ah rasanya bukan karena itu! Atau memang di sekolah itu benar-benar tidak ada orang tua murid yang tergolong tidak mampu ? ah mungkin betul juga guru itu, mengkategorikan mampu dan tidak mampu bukan masalah gampang di Jakarta ini, yang mampu tak segan mengaku kurang mampu, yang pas-pasan pun enggan mengaku atau tidak mau dibilang butuh bantuan? ah masa iya? atau ??? “,…. Ah Bapak Fitria tidak lagi peduli.
Yang dia rasa hanya syukur, ketika di kantor seusai Sholat Ashar, dia terima pesan dari putrinya “ Assalamualaikum Bapak, kata pak guru, sumbangan Qurbannya sudah beres, terima kasih pak, Fitria sayang bapak, Wassalam”.

terima kasih mbak,inspiratif serasa menohok ulu hati kita.Banyak anak-anak pinter semisal fitria disekitar kita,Saya jadi ingat sahabat putri saya di smp rsbi itu.Suatu ketika saya pernah ngobrol ngalor-ngidul dengan bapak paruh baya,usia sekitar 40 tahunan.Dengan jujur beliau bercerita tentang siapa dirinya (neski saya tidak bermaksud mencecar pertanyaan ala reporter tv).”Saya berusaha kecil2an pak buka warung sate di cilangkap,kebetulan sekarang ada cabang di cibubur( dengan tanpa menyombongkan diri tentunya).”Untuk anak berapapun beayanya masih saya “usahakan”,kebetulan anak saya yang no 1 ini dari kecil juara terus pak.sayang kalau terputus impiannya.Sampai saya bela-belain cari pinjaman ke saudara,untuk nggenapin uang pangkalnya”.Saya jadi terharu,untuk hal-hal seperti ini saya seperti perempuan,nudah mengeluarkan air mata.Dan diakhir perbincangan,”Itu anak saya pak,yang lagi ngobrol dengan anak bapak”,sirr jantung saya berdegup keras.Seorang bapak dengan keterbatasan dan kekurangnnya mencoba neneberikan yang terbaik untuk buah hatinya. Untuk Pak menteri DIKNAS kita,jangan abaikan mereka.
wanet pogung kidul 12 juli 2010 menjelang cabut ke jkt
apa kabar pak hariiiii
matur nuwun komennnya menarik utk diskusi dan selalu menyemangati utk menulis lagi