<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Eloktenan&#039;s Blog</title>
	<atom:link href="http://eloktenan.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://eloktenan.wordpress.com</link>
	<description>Membaca, melihat, merasa, mendiskusikannya bersama elok</description>
	<lastBuildDate>Tue, 21 Dec 2010 02:57:23 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='eloktenan.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/f8e346d04463298c82f9e024aff0969a?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Eloktenan&#039;s Blog</title>
		<link>http://eloktenan.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://eloktenan.wordpress.com/osd.xml" title="Eloktenan&#039;s Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://eloktenan.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Saya Bosan Bila Hanya Berkhayal</title>
		<link>http://eloktenan.wordpress.com/2010/05/19/saya-bosan-bila-hanya-berkhayal/</link>
		<comments>http://eloktenan.wordpress.com/2010/05/19/saya-bosan-bila-hanya-berkhayal/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 May 2010 04:24:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>eloktenan</dc:creator>
				<category><![CDATA[others]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://eloktenan.wordpress.com/?p=286</guid>
		<description><![CDATA[Seperti tulisan saya sebelumnya, mengkhayal adalah kenikmatan tingkat tinggi dengan privilege serasa di area VVIP Tetapi konon mengkhayal tidak ubahnya sebuah gambar maya yang sia-sia tanpa makna jika kehadirannya sebatas mengisi ruang kosong tanpa daya untuk mewujudkannya Walau hingga detik ini, saya pun masih percaya, mengkhayal paling nikmat adalah yang ada di ruang imajinasi, kita [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eloktenan.wordpress.com&amp;blog=7016960&amp;post=286&amp;subd=eloktenan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://eloktenan.files.wordpress.com/2010/05/web-all1.png"></a><a href="http://eloktenan.files.wordpress.com/2010/05/web-all2.png"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-302" title="web all" src="http://eloktenan.files.wordpress.com/2010/05/web-all2.png?w=150&#038;h=109" alt="" width="150" height="109" /></a>Seperti tulisan saya sebelumnya, mengkhayal adalah kenikmatan tingkat tinggi dengan privilege serasa di area VVIP<br />
Tetapi konon mengkhayal tidak ubahnya sebuah gambar maya yang sia-sia tanpa makna jika kehadirannya sebatas mengisi ruang kosong tanpa daya untuk mewujudkannya</p>
<p><span id="more-286"></span><br />
Walau hingga detik ini, saya pun masih percaya, mengkhayal paling nikmat adalah yang ada di ruang imajinasi, kita yang jadi sutradaranya, karena nggak perlu capek-capek mewujudkannya, nggak perlu berjumpa resiko, apalagi bertatapan dengan rasa malu bila nyata tak seindah warna dalam khayalan</p>
<p>Ah,..tapi biarlah…<br />
Saya bosan bila hanya mengkhayal, saya juga mau mewujudkannya!</p>
<p>Ijinkan saya memilih,..<br />
Mengkhayal tak kalah dasyatt bila kita memiliki asa,<br />
Menghadirkannya menjadi sebuah realita<br />
Walau semangat itu jatuh bangun dan nyala padam,<br />
Kini jadi sesuatu yang mengakar dan tak sabar untuk muncul ke permukaan</p>
<p>Apaan sech&#8230;??????&#8230;..</p>
<p>Suatu hari saya mengkhayal…<br />
Andaikan semua teman yang ada di fb saya;<br />
bisa bertemu dalam satu rasa<br />
Sama-sama menghargai kreativitas dan salah satu warisan budaya<br />
dengan caranya masing-masing dan melakukan adaptasi mengikuti jamannya juga</p>
<p>Maka dengan rendah hati, semangat tinggi<br />
Saya dan teman-teman coba mewujudkannya<br />
Kami membangun sebuah website dengan isi rupa-rupa<br />
Tetapi kami tentukan benang merahnya : desain dan batik!</p>
<p>Kami memiliki 3 kategori utama yakni ; toko online, kontes dan info batik</p>
<p>Maka,<br />
Buat yang sedang mengalir atau tersisa darah muda dalam dirinya : silahkan ikuti kontes desain, jadi peserta kontes dengan desain motif batik andalan kalian, mari menang dan dapatkan royaltinya,</p>
<p>buat yang ngaku muda atau berjiwa muda tapi nggak mau ikutan kontesnya? : jadilah pendukung desain andalan anda dan miliki desain kerennya</p>
<p>Buat yang hoby semuanya tapi juga semangat cari rejeki, silahkan join di toko online; jadi penjual? Sekaligus pembelinya? Silahkennnnn semua sah2 saja, weitss.. tapi khusus kategori batik ya? mau Batik Cirebon, Solo, Yogya, Pekalongan, Indramayu, Madura, Kalimantan, Tegal , bolehhh.., bahkan kita aplikasikan tidak sebatas kain dan baju saja, penasaran? Kita lihat saja ! <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /><br />
Buat yang suka menulis, blogger dan penulis ampuh, mari berbagi ilmu dan pesona anda di halaman info batik yang kami sediakan</p>
<p>Weitsssssssss,&#8230;&#8230;. satu lagi<br />
Buat yang nggak suka semuanya yang diatas, tapi masih ingat bagaimana kita pernah bekerjasama, sekaligus adalah guru saya melihat peluang dan menjadikannya sebuah daya tarik yang saling menguntungkan, mari jadi sponsor di halaman kontes ! <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Saya masih ingat dan percaya, semua yang saya sebutkan diatas ada di list pertemanan saya. Daripada hanya melirik status FB saja, Mari berkolaborasi <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Saya sudah berkolaborasi dengan 3 nyawa dengan semangat yang menggelora. (selain Endah- facebook/Endah tatapambudi, belum mau disebutkan namanya <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> ) Kami punya khayalan yang ternyata sama dan sepakat untuk mewujudkannya</p>
<p>Tapi rasanya akan lebih dasyattttt bila teman-teman sekalian juga ada didalamnya!<br />
So, ladies and gentleman&#8230;</p>
<p>Bismillahirahmanirrahim&#8230;</p>
<p>Welcoming <a rel="nofollow" href="http://batikgue.com/" target="_blank">http://batikgue.com/</a></p>
<br />Filed under: <a href='http://eloktenan.wordpress.com/category/others/'>others</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/eloktenan.wordpress.com/286/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/eloktenan.wordpress.com/286/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/eloktenan.wordpress.com/286/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/eloktenan.wordpress.com/286/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/eloktenan.wordpress.com/286/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/eloktenan.wordpress.com/286/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/eloktenan.wordpress.com/286/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/eloktenan.wordpress.com/286/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/eloktenan.wordpress.com/286/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/eloktenan.wordpress.com/286/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/eloktenan.wordpress.com/286/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/eloktenan.wordpress.com/286/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/eloktenan.wordpress.com/286/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/eloktenan.wordpress.com/286/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eloktenan.wordpress.com&amp;blog=7016960&amp;post=286&amp;subd=eloktenan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://eloktenan.wordpress.com/2010/05/19/saya-bosan-bila-hanya-berkhayal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/258c69b24b6f5b67c4a0812be5b9149b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">eloktenan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://eloktenan.files.wordpress.com/2010/05/web-all2.png?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">web all</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jangan Urusin Cita-cita Gue, Please,&#8230;.</title>
		<link>http://eloktenan.wordpress.com/2010/05/10/jangan-urusin-cita-cita-gue-please/</link>
		<comments>http://eloktenan.wordpress.com/2010/05/10/jangan-urusin-cita-cita-gue-please/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 May 2010 04:36:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>eloktenan</dc:creator>
				<category><![CDATA[others]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://eloktenan.wordpress.com/?p=292</guid>
		<description><![CDATA[“Aku nggak mau Akuntansi aku pengen dekave (DKV; Desain Komunikasi Visual), pleaseeeeee….”  “ Tante, bilangin donk sama Ayah, jangan terlalu urusin cita-cita gue , please….”  “ Ya tante ya?…ya..?..ya? ..please….”    Bagi sebagian besar orang tua yang kini memiliki putra atau putri yang duduk di Kelas 3 SMA/ MA/ SMK/ SMEA , rasanya tidak asing [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eloktenan.wordpress.com&amp;blog=7016960&amp;post=292&amp;subd=eloktenan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><em>“Aku nggak mau Akuntansi aku pengen dekave (DKV; Desain Komunikasi Visual), pleaseeeeee….”</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em> </em><em>“ Tante, bilangin donk sama Ayah, jangan terlalu urusin cita-cita gue , please….”</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em> </em><em>“ Ya tante ya?…ya..?..ya? ..please….”</em><em> <span id="more-292"></span></em></p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">Bagi sebagian besar orang tua yang kini memiliki putra atau putri yang duduk di Kelas 3 SMA/ MA/ SMK/ SMEA , rasanya tidak asing dengan penggalan kalimat diatas. Demikian dengan saya, meski hanya sekedar imbas dari permohonan menjadi “juru bicara” bagi keponakan saya kepada orang tuanya, terutama ayahnya.</p>
<p style="text-align:justify;">  </p>
<p style="text-align:justify;"> Belum juga UAN (Ujian Akhir Nasional) dijalani, tapi mereka rata-rata sudah dibuat “keriting” dengan agenda tentang SNMPTN (Seleksi Masuk  Perguruan Tinggi Negeri), bahkan juga seleksi dari perguruan tinggi swasta. Karena kini, perguruan tinggi swasta tertentu mulai diperhitungkan kualitasnya, kurikulumnya, dosennya, fasilitasnya, menawarkan beasiswa atau beberapa pertimbangan lainnya.</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">Sejujurnya kalau dulu jamannya saya kuliah, rata-rata calon mahasiswa melirik perguruan tinggi swasta setelah jelas nasibnya nggak diterima di perguruan tinggi negeri, tapi sekarang tidak demikian adanya. Bahkan beberapa universitas swasta cukup percaya diri untuk menggelar ujian pada hari yang sama dan mengharuskan registrasi atau daftar ulang segera.</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;"> Bisa kita bayangkan, kuliah jaman sekarang harus menggunakan strategi. Apalagi  bagi yang memiliki kepandaian dan dana pas-pasan, semakin “keriting” saja, artinya jika salah langkah, biaya bahkan impian masa depan bisa jadi taruhannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Pilihan program studi yang beraneka ragam, jadwal test yang hampir bersamaan, kondisi persaingan, yang sengit, dimana jumlah bangku yang tersedia berbanding terbalik dengan para pendaftar, ditambah lagi biaya kuliah, yang bagi sebagian masyarakat, masih dalam hitungan angka selangit itu, lagi-lagi semakin membuat pusing kepala, “bikin mumet..mett…”, kata kakak saya.</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">Bahasan semakin menjadi meriah, meski pilihan jurusan atau program studi (prodi) semakin beragam, tetapi jurusan favorit tetap itu-itu melulu. Mengapa yang favorit menjadi itu-itu melulu? Sebut saja, Jurusan ; Ekonomi, Teknik, Kedokteran, Komunikasi dsb..</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">Karena hampir sebagian besar peminat jurusan atau prodi diatas, berasumsi dan memiliki orientasi bahwa jurusan atau prodi diatas adalah bidang yang menjanjikan. Bisa segera bekerja , karir terang, masa depan cemerlang. singkatnya, diterima bekerja menjadi tujuan akhir.</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">Keruwetan bertambah lagi, ketika calon mahasiswa dihadapkan pada “selera” untuk memilih jurusan atau prodi yang kurang direstui orang tuanya. Sebagai donatur utama atau atas nama kasih dan sayangnya, orang tua tidak rela kalau pilihan yang dituju, kurang jitu.</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">Tidak peduli minat dan kemampuan anaknya, yang jelas jangan sampai setelah lulus kuliah anaknya hanya menambah daftar antri pengangguran saja.</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">Tak ayal lagi, fenomena kalimat semacam paragraph awal diatas, menjadi mengemuka.  Bagi sebagian orang tua, hampir pasti bahasa keponakan saya itu cukup membuat merah telinga. Meski sejujurnya kalau kita mau coba pahami maksudnya, saya merasa bahwa kalimat keponakan saya itu bermaksud memohon untuk diberi  kepercayaan, memilih jurusan atau prodi yang akan ditempuhnya, sesuai minatnya dengan penuh tanggung jawab.</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">Ini bukan perkara mudah. Beberapa orang tua masih belum bisa merelakannya. Bagi mereka, anaknya masih belum bisa dilepas sepenuhnya, untuk memilih jurusan yang akan dijalani. Mereka tetap berpikir bahwa jurusan yang tepat akan memudahkan proses kehidupan anaknya ketika bekerja.</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;"> Apakah  selalu hasil perburuan ilmu  selama kuliah itu mengena/ tepat sasaran ketika bekerja?</p>
<p style="text-align:justify;">Setidaknya saya punya beberapa cerita,</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">Kira-kira 5 tahun yang lalu, saya bergabung di salah satu <em>advertising agency</em>, jabatan saya <em>account manager</em>, saya dan tim meng<em>handle</em> beberapa <em>company</em> dengan <em>brand</em> yang lumayan banyak dan aktif.  Dalam satu tim, saya bekerjasama dengan  tim media, kreatif dan <em>account management</em>. Di bagian <em>account management,</em> saya membawahi 2 <em>senior account executive (AE)</em> dan <em>satu junior AE</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Tetapi yang  membuat saya ingat sampai sekarang adalah,  dalam tim tersebut, saya memiliki seorang <em>senior AE</em>, dengan usia 2 tahun lebih tua dari saya, bahkan dia S2-lulusan Amerika pula. Meski menyadari usia belum tentu menunjukkan senioritas. Tetap saja, dengan lugunya saya sempat bertanya, mengapa dia bersedia bergabung dalam tim saya. Sementara secara usia dan bahkan Ilmu yang ditempuhnya, bisa jadi dia lebih senior.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam suatu perbincangan ketika makan siang, terbukalah informasi itu bagi saya. Teman saya itu mengatakan, bahwa dia memilih jurusan kuliah atas pilihan orang tuanya, yang dia tidak terlalu suka, serta menyadari bahwa dunia komunikasi membuatnya tertarik, untuk itu dia rela  bergabung di sebuah <em>advertising agency</em> dan memulai karirnya dari bawah.</p>
<p style="text-align:justify;">Pun demikian dengan <em>art director</em> yang menjadi andalan tim kami dalam membuahkan sebuah desain iklan. <em>Art director</em> teman saya itu, bukan lulusan Desain Komunikasi Visual, Ia mengaku  Kuliah Hukum, sempat bekerja di pengadilan negeri selama setahun,  sebelum akhirnya dia memutuskan keluar dan mengikuti  kuliah Desain Grafis.</p>
<p style="text-align:justify;">Teman saya sesama <em>account manager</em> tidak jauh beda, dia adalah seorang arsitektur. sempat juga bekerja di sebuah konsultan properti.</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;"> Semua teman-teman saya diatas, ketika saya tanya, mengapa berani keluar dari bidang  yang dipelajari maupun karir yang digelutinya sebelumnya, sebagian besar mengaku, menyadari bahwa “<em>passion</em>-nya” tidak sama dengan ilmu yang digelutinya ketika kuliah.</p>
<p style="text-align:justify;"> Adalah bukan perkara mudah bagi sebagian orang,  bertekad “menyeberang” ke bidang lain, seperti teman-teman saya itu, apalagi bila dihadapkan dengan masalah usia, persaingan apalagi anggapan takut tidak bekerja.</p>
<p style="text-align:justify;">Meski ada juga yang beranggapan  profesi “menyeberang” adalah hal yang wajar, sebagai bagian dari proses beradaptasi dan mencari jati diri. Akan tetapi, apabila ada bidang yang bisa menjadi minat dan bakat, lalu kita geluti dan  pelajari sedari dini, kenapa tidak?</p>
<p style="text-align:justify;">Rasanya saya  semakin percaya untuk membantu keponakan saya, mengatakan minatnya kepada ayahnya. Setelah sesuatu yang saya pahami dari kisah teman-teman saya diatas, saya gabung dengan informasi yang saya baca di Harian Kompas, judulnya; “Dua Juta Diploma dan Sarjana Menganggur”(Kompas, 19 Peb 2010).</p>
<p style="text-align:justify;">Angka diatas mengemuka dalam diskusi ”Siap Hadapi Tantangan Dunia Kerja dengan Pendidikan Berfokus Karier”, Tanggal 18 Pebruari di Jakarta. Di Kompas itu disebutkan , tanpa ketrampilan yang dibutuhkan oleh dunia kerja, kualitas lulusan perguruan tinggi tidak maksimal berkembang. Selain itu banyak calon mahasiswa yang cenderung memilih program studi hanya berdasarkan tren yang ada, karena permintaan orang tua atau keluarga dan pengaruh teman sebaya.</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk itu,  perdebatan memilih jurusan kuliah yang  represif, hanya mengedepankan tujuan supaya “laku”/diterima kerja, tanpa mempertimbangkan minat dan bakat anak, selayaknya kita hindari.</p>
<p style="text-align:justify;">Digantikan dengan langkah-langkah yang memberikan wadah untuk berkembang dan meyakini minat anak, seluas-luasnya.</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">Bahkan di beberapa sekolah, biasanya dilakukan psikotes, sehingga memungkinkan untuk memberikan dukungan cita-cita yang dilandasi data, juga menghindari dugaan memilih program studi hanya berdasarkan trend atau ikut-ikutan teman semata.</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">Selain itu, perlu dicatat, bahwa generasi sekarang dikenal dengan “melek gadget”, bahasan  apa yang tidak mereka “lahap” dengan mudahnya, di tambah eksistensinya dalam suatu komunitas yang  mereka miliki, rasanya semakin memudahkan bagi mereka untuk menggali informasi sebesar-besarnya, termasuk info seputar pendidikan. Inipun  terbuka bagi para orang tua tentunya. “Jangan buta on line”, kata keponakan saya.</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;"> Yang tidak kalah penting, meyakini bahwa pendidikan adalah bekal untuk menjalani kehidupan dengan penuh tanggung jawab , penuh minat, semangat dan kegembiraan dalam menjalaninya.</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">Menjadikan cita-cita semata-mata supaya “dapat diterima bekerja” setelah kuliah, selain memberi arti sempit bagi fungsi pendidikan juga tidak didasarkan pada sikap menghargai hak dan minat anak.</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">Akan lebih terasa bijak, meski butuh kepercayaan besar untuk meyakininya, bahwa selain mempunyai cita-cita; memiliki kemampuan untuk diterima di lapangan kerja, kenapa juga tidak  menciptakan lapangan kerja?</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Pendidikan bukan persiapan untuk hidup, Pendidikan adalah hidup itu sendiri “(John Dewey),</em></p>
<p style="text-align:justify;">Saya akan sampaikan kata bijak diatas kepada kakak saya, serta berdiskusi, mungkin sedikit beradu argumentasi, demi menjalankan amanah atau pesan penuh harap dari keponakan saya tercinta, diatas.</p>
<p style="text-align:justify;">Sudahkan  Bapak dan Ibu mengalami hal yang sama?</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<br />Filed under: <a href='http://eloktenan.wordpress.com/category/others/'>others</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/eloktenan.wordpress.com/292/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/eloktenan.wordpress.com/292/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/eloktenan.wordpress.com/292/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/eloktenan.wordpress.com/292/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/eloktenan.wordpress.com/292/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/eloktenan.wordpress.com/292/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/eloktenan.wordpress.com/292/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/eloktenan.wordpress.com/292/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/eloktenan.wordpress.com/292/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/eloktenan.wordpress.com/292/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/eloktenan.wordpress.com/292/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/eloktenan.wordpress.com/292/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/eloktenan.wordpress.com/292/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/eloktenan.wordpress.com/292/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eloktenan.wordpress.com&amp;blog=7016960&amp;post=292&amp;subd=eloktenan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://eloktenan.wordpress.com/2010/05/10/jangan-urusin-cita-cita-gue-please/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/258c69b24b6f5b67c4a0812be5b9149b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">eloktenan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bapakku Jenius Meski Tak Lulus SMA</title>
		<link>http://eloktenan.wordpress.com/2010/05/06/284/</link>
		<comments>http://eloktenan.wordpress.com/2010/05/06/284/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 May 2010 04:21:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>eloktenan</dc:creator>
				<category><![CDATA[sekitar ku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://eloktenan.wordpress.com/?p=284</guid>
		<description><![CDATA[Di suatu siang, seorang teman, katakanlah namanya Kuntum, mengatakan ini pada saya;   “Saya tidak habis pikir, apa yang dilakukan kedua orang tua saya, waktu saya kecil dulu, rasanya mereka jarang melarang, tapi cukup membuat saya untuk tidak berbuat yang terlarang, rasanya mereka jarang khawatir, tapi cukup membuat saya untuk tidak berbuat yang menghawatirkan”   [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eloktenan.wordpress.com&amp;blog=7016960&amp;post=284&amp;subd=eloktenan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Di suatu siang, seorang teman, katakanlah namanya Kuntum, mengatakan ini pada saya;</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">“Saya tidak habis pikir, apa yang dilakukan kedua orang tua saya, waktu saya kecil dulu, rasanya mereka jarang melarang, tapi cukup membuat saya untuk tidak berbuat yang terlarang, rasanya mereka jarang khawatir, tapi cukup membuat saya untuk tidak berbuat yang menghawatirkan”</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">“he2…” sahut saya, menjadi pendengar setia</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-284"></span></p>
<p>“Lalu kesaktian apa lagi yang kau rasakan? Sahut saya menggoda,</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">Kuntum mengatakan banyak hal, tetapi paling tidak beberapa yang dia ingat adalah; dia diperbolehkan kuliah, merantau jauh ke kota yang tentu tidak didampingi kedua orang tuanya, pergaulan bebas merajalela, tetapi tidak tergoda, tetap tertib sholat dan mengaji dan satu lagi, yang dia tidak pernah lupa, dia jarang merasa kekurangan, meski kehidupan ekonomi mereka pas-pasan, jauh dari predikat kaya. Puasa sudah biasa, pertama untuk niat ibadah, diakuinya untuk berhemat juga. Hingga akhirnya kini mendapat pekerjaan hebat dan sesuai minatnya. Meski banyak iming-iming yang indah tapi berbisa, syukurlah tetap dia tidak tergoda.</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">“ Yaaa,,, itu yang indah-indahnya ya? kekurangan saya ya ada, tapi baiknya kita bahas tentang keindahan yang sedang saya syukuri ya? “ katanya lagi.</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">“ Saya percaya bahwa semua keberhasilan ini, setelah Allah memiliki kuasa, saya menyambutnya dengan kerja keras, dorongan lingkungan, tidak ragu saya menjawab, pastinya berkat orang tua saya, sungguh saya merasa orang tua saya jenius, meski tidak sampai lulus SMA” , katanya.</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian percakapan itu, berakhir begitu saja, bersamaan dengan pertemuan kami. Saya pikir saya akan mudah melupakannya, ternyata tidak,..</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">Dan di pertemuan yang terpisah, kembali saya berbincang dengan seorang kerabat yang memilki putra menginjak usia dewasa, sebut saja namanya Hasan, kepada saya dia sampaikan keluhan, betapa kadang-kadang keadilan serasa jauh darinya, dia sudah bekerja keras tapi rejeki ya segitu-gitunya. Ingin sekali dia memberikan kebahagiaan yang bersifat materi, tapi serasa mimpinya itu selalu jauh panggang dari api, maka selanjutnya saya dengarkan beberapa kalimat berandai-andai yang dilontarkannya;</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">“ Cobaaaa kalau saya punya pekerjaan bagusan dikit, saya sekolahin anak saya setinggi-tingginya”</p>
<p style="text-align:justify;">“ Cobaaaa kalau ada uang lebih, bisa saya carikan sepeda motor seadanya, biar anak saya pulang sekolah nggak terlalu jauh, kepanasan atau kehujanan lagi”</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">“ Cobaa kalau ada waktu luang, bisa perhatiin anak-anak, biar nggak ikut-ikutan bandel kena pengaruh teman-temannya yang nggak bener……</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">“Cobaaa….</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">Beberapa kalimat yang diawali cobaa… dari si bapak saya rasakan hanya semakin menambah kesedihannya saja.</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">Sama seperti percakapan sebelumnya, saya tidak bisa berbuat banyak, usai begitu saja.</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">Hingga suatu hari sepulang kerja, ada bazaar buku. Seperti biasa saya pilih beberapa, apalagi karena ada diskonnya tambah semangat saja. “Melahapnya” urusan nanti, tapi tekad untuk tidak membawanya pulang rasanya sayang untuk dilewatkan he2..</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">Dan setelah membaca salah satu buku itu, saya rasanya jadi ingin buru-buru bertemu dua orang diatas.</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">Dalam buku itu, Saya tertarik dengan ulasan bahwa hal yang penting dilakukan orang tua adalah menunaikan kewajiban mendidik, sebagai proses, bukan kewajiban mencetak anak saleh, sebagai hasil. Baik buruk anak berada di tangan Allah, kita tidak berkewajiban mencetak anak saleh. Jika kita sudah bekerja keras mendidik, kemudian bertawakallah kepada Allah, yang di tangan-Nya kebaikan dan keburukan seseorang untuk berharap hasil didikan yang baik. Tidak perlu bersedih lantaran tidak mampu menafkahi anak dengan sempurna, tapi jangan menganggur lantaran keeengganan dan kemalasan. Selain juga (ini yang sering saya dengar meski mempraktekkannya tidak semudah mengatakannya); asuhan dan didikan dalam bentuk tindakan, jauh lebih efektif ketimbang bentuk kata-kata.</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">Seketika itu saya jadi teringat Kuntum, bisa jadi orang tua Kuntum tidak sehebat professor dalam mendidiknya, tapi pola pengasuhan dan tindakan positif bagi anaknya, keteladan dalam kesederhanaan itu sedemikian dasyatnya, kemudian membawa pengaruh bagi kehidupan Kuntum, yang paling tidak hidup dalam asuhan orang tuanya hingga dia memutuskan untuk menikah.</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">Untuk Pak Hasan; kekurangan tidak menjadi harga mati untuk tidak melihat kebaikan dan hal-hal yang positif lainnya, yang penting tetap semanggat, nilai-nilai kebaikan dipegang teguh … selanjutnya Allah yang akan mengaturnya.</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">Kira-kira begitu ya? … setuju/tidak ? <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><em>Bacaan : La Tahzan for Parents, KH Dindin Solahudin.</em></p>
<br />Filed under: <a href='http://eloktenan.wordpress.com/category/sekitar-ku/'>sekitar ku</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/eloktenan.wordpress.com/284/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/eloktenan.wordpress.com/284/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/eloktenan.wordpress.com/284/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/eloktenan.wordpress.com/284/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/eloktenan.wordpress.com/284/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/eloktenan.wordpress.com/284/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/eloktenan.wordpress.com/284/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/eloktenan.wordpress.com/284/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/eloktenan.wordpress.com/284/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/eloktenan.wordpress.com/284/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/eloktenan.wordpress.com/284/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/eloktenan.wordpress.com/284/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/eloktenan.wordpress.com/284/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/eloktenan.wordpress.com/284/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eloktenan.wordpress.com&amp;blog=7016960&amp;post=284&amp;subd=eloktenan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://eloktenan.wordpress.com/2010/05/06/284/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/258c69b24b6f5b67c4a0812be5b9149b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">eloktenan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kepepet itu juga indah !</title>
		<link>http://eloktenan.wordpress.com/2010/05/01/kepepet-itu-juga-indah/</link>
		<comments>http://eloktenan.wordpress.com/2010/05/01/kepepet-itu-juga-indah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 May 2010 04:14:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>eloktenan</dc:creator>
				<category><![CDATA[motivasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://eloktenan.wordpress.com/?p=280</guid>
		<description><![CDATA[“ Waktu itu saya sedang mentraktir pacar saya makan bareng, eh nggak taunya duitnya kurang, duch untungggg… aja ada handphone saya, saya tawarin temen untuk beli pulsa elektronik ke saya, pulsa saya transfer dan temen saya tinggal bayar via mobile banking, jadi dech saya ke kasir bayar traktiran pake debit card” he2…. Kira-kira begitulah kalimat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eloktenan.wordpress.com&amp;blog=7016960&amp;post=280&amp;subd=eloktenan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">“ Waktu itu saya sedang mentraktir pacar saya makan bareng, eh nggak taunya duitnya kurang, duch untungggg… aja ada handphone saya, saya tawarin temen untuk beli pulsa elektronik ke saya, pulsa saya transfer dan temen saya tinggal bayar via mobile banking, jadi dech saya ke kasir bayar traktiran pake debit card” he2….</p>
<p style="text-align:justify;">Kira-kira begitulah kalimat yang saya dengar dari seorang ABG, di salah satu iklan yang diputar di radio.<span id="more-280"></span></p>
<p style="text-align:justify;">“He2… kepepet jaman sekarang nech”, pikir saya</p>
<p style="text-align:justify;">Maka sayapun jadi teringat kembali semangat- semangat semacam itu, biasa saya dengar di seminar-seminar entrepreneurship, merupakan judul buku juga; The Power of Kepepet <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /><br />
Yup, saya jadi ingat kira-kira 13 tahun yang lalu, saya pun melakukan hal seperti itu, beti lah! beda-beda tipis maksudnya dan meski hingga kini, sejujurnya perihal itu tidak mereda bagi saya ha2…</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika itu saya masih kuliah di Yogya, saya akan mengirimkan surat lamaran kerja, dari sebuah iklan lowongan yang saya dapat di Kompas. Waktu itu jamannya kirim surat lamaran kerja masih pakai pos, nggak di email atau tinggal nelp atau chat pake bbm kayak sekarang he2…<br />
Sementara saya harus mengirimkannya dengan pos kilat khusus karena waktunya mepet. Tetapi untuk mengirimkannya kira-kira dibutuhkan Rp 5000,- ah uang saya yang tersisa di ATM tinggal Rp 19.000. Sementara seingat saya ATM dekat kos saya hanya bisa mengeluarkan pecahan Rp 20.000, waduh …</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<p style="text-align:justify;">Entah darimana akhirnya wangsit itu ada saja he2.., saya lihat teman kos yang sedang menghitung uang recehan setelah dia berjualan Indomie di kos kami, Sebenarnya dia berencana akan ke supermarket untuk kembali berbelanja Indomie dan telor andalan dagangannya. Tetapi saya coba saja meminta pertolongannya, “apa salahnya dicoba?” pikir saya. Akhirnya saya bilang padanya bahwa saya bermaksud pinjam uangnya Rp 10.000 saja untuk “mancing” uang saya dari ATM he2…</p>
<p style="text-align:justify;">Awalnya dia ragu, mengingat dia juga sedang menunggu transferan dari orang tua, uangnya yang tersisa Rp 15.000 itupun untuk modal belanja Indomie dan telor lagi. Tapi alhamdulilah dia mau membantu saya, maka saya bawalah uang recehan dia senilai 10,000 rupiah itu ke teller bank. Belum lagi ketika antri setor uang di teller, bertemu pula dengan teman kuliah saya, dia sempat nyeletuk ” wah lok ampuh tenan kamu, waktunya orang tong pes, kamu masih sempat nabung! ” ha2…</p>
<p style="text-align:justify;">Ah biarlah saya simpan rahasia ini berdua teman kos saya itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Seusai dari teller, buru-buru saya lari ke samping gedung bank, dimana terdapat barisan ATM. Saya mulai antri disana. Kata teman saya ” duch lok kalo ada apa-apa atau lagi hang ATM ini, bisa mampus kita berdua” ha2…</p>
<p style="text-align:justify;">Alhamdulilah, pecahan Rp 20.000,- itu keluar juga! maka segeralah saya bagi berdua teman saya, mengembalikan uangnya Rp 10,000 dan Rp 10,000 sisanya nya, buru-buru saya larikan ke kantor pos.</p>
<p style="text-align:justify;">Berkat teman saya tercinta itu, seminggu setelah wisuda saya telah menjadi bagian dari ibukota, berjuang, mengasah kreatifitas juga untuk sesuap nasi sebuah Mercy halaaahh…. <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align:justify;">Teman, Bersyukurlah bagi kalian yang jarang kepepet, karena persiapan yang prima atau karena solusi yang kalian miliki melimpah.</p>
<p style="text-align:justify;">Tetapi jikalau harus berhadapan dengan sesuatu yang mendesak alias kepepet. Jangan keburu patah arang, tetaplah bersemangat, gali kreatifitas yang melimpah dari diri dan sekitar kita, jangan lupa Bismillah ..</p>
<p style="text-align:justify;">Bila kita mau, rasanya ide itupun tak kalah melimpahnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Yang penting jauhi kreatifitas dengan cara-cara tercela (halah udah serupa nenek -nenek saja nasehat saya he2..)<br />
Sebab dengan kondisi yang tidak selalu manis, disitulah sebenarnya, kreativitas kita terasah.</p>
<p style="text-align:justify;">Maka jika dihadapkan pada perihal kepepet, kitalah yang pegang kendalinya. Silahkan pilih; akan ikut terpuruk, dengan kondisi kepepet, menyerah dan merana atau menjadikan kepepet sebagai cambuk untuk bercita-cita maju,<br />
Teman, semoga saja buatmu…kepepet itu juga indah !</p>
<br />Filed under: <a href='http://eloktenan.wordpress.com/category/motivasi/'>motivasi</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/eloktenan.wordpress.com/280/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/eloktenan.wordpress.com/280/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/eloktenan.wordpress.com/280/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/eloktenan.wordpress.com/280/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/eloktenan.wordpress.com/280/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/eloktenan.wordpress.com/280/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/eloktenan.wordpress.com/280/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/eloktenan.wordpress.com/280/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/eloktenan.wordpress.com/280/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/eloktenan.wordpress.com/280/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/eloktenan.wordpress.com/280/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/eloktenan.wordpress.com/280/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/eloktenan.wordpress.com/280/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/eloktenan.wordpress.com/280/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eloktenan.wordpress.com&amp;blog=7016960&amp;post=280&amp;subd=eloktenan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://eloktenan.wordpress.com/2010/05/01/kepepet-itu-juga-indah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/258c69b24b6f5b67c4a0812be5b9149b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">eloktenan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Buta Esensi</title>
		<link>http://eloktenan.wordpress.com/2010/03/09/buta-esensi/</link>
		<comments>http://eloktenan.wordpress.com/2010/03/09/buta-esensi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Mar 2010 07:03:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>eloktenan</dc:creator>
				<category><![CDATA[sekitar ku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://eloktenan.wordpress.com/?p=276</guid>
		<description><![CDATA[Teman, terasakah olehmu, sama seperti saya? Saya dalam beberapa hal terjebak dalam bahasan atau kegiatan yang tidak menomorsatukan esensi atau hakikat atau inti atau hal yang pokok. Ya dengan malu saya akui. Sejujurnya rasa itu bersumber dari segala arah, maksudnya, bisa orang lain yang tidak sadar esensi dan saya merasakannya atau sebaliknya saya yang tidak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eloktenan.wordpress.com&amp;blog=7016960&amp;post=276&amp;subd=eloktenan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Teman, terasakah olehmu, sama seperti saya?</p>
<p>Saya dalam beberapa hal terjebak dalam bahasan atau kegiatan yang tidak menomorsatukan esensi atau hakikat atau inti atau hal yang pokok.</p>
<p>Ya dengan malu saya akui. Sejujurnya rasa itu bersumber dari segala arah, maksudnya, bisa orang lain yang tidak sadar esensi dan saya merasakannya atau sebaliknya saya yang tidak paham esensi sehingga orang lain yang kena imbasnya. <span id="more-276"></span></p>
<p>Hmmm,… kalau yang bersumber dari orang lain, tidak usahlah panjang lebar kita membahasnya, kalau harus disebutkan, yang agak melekat di ingatan saya adalah hasil akhir Pansus DPR tentang hak angket Bank Century, ketika itu, pulang kerja, saya mendengar berita di radio dalam mobil saya, tentang usulan opsi baru, yakni opsi A digabung dengan opsi C. Sejujurnya saya bukan pengamat politik, amat sangat bukan, tetapi saya hanya mengkonsumsi berita, memasukkan dalam otak saya dan melogika, hasilnya, menurut pikiran saya itu tidak masuk akal, tidak sadar esensi. Saya hanya bergumam dalam hati, “oalah,,,ngono yo ngono ning mbok ojo ngono” (gitu ya gitu, tapi mbok ya jangan gitu)</p>
<p>Ah tapi dengarlah komentar para nara sumber di radio saya ketika itu, dicampur dan diadu antara pro dan kontra, mengandalkan bahasan dari nara sumber yang sok ilmiah dan pandai berkata-kata, kalimatnya sedemikian rupa, terdengar intelek atau seakan-akan intelek sudah jadi bias, apalagi untuk saya yang awam ini he2.., hingga peta bahasan lama-lama bergeser, kalau ibarat warna, dari putih jadi abu-abu bahkan dari abu-abu bisa tampak hitam. Dari yang sependapat dengan saya, menjadi sedikit memakluminya atau bahkan sama sekali mementahkan rasa saya tentang opsi diatas.</p>
<p>Akhirnya saya hanya cukup tidak peduli, paling dalam hati saya bergumam “ hakikat kok dibalik-balik, sudahlah mungkin banyak kajian atau info lainnya yang saya tidak ikuti dari awal”, begitu pikir saya.</p>
<p>Kalau sudah begini saya jadi ingat kata-katanya Tukul Arwana, kira-kira begini; “ Lebih baik bodoh tapi ora minteri, dari pada pinter tapi sukanya mbodohi orang lain” hi2…</p>
<p>Hingga sabtu pagi, saya membaca tulisan Effendi Gazali, di halaman Opini, Kompas, 6 Maret 2010, saya kutip kalimat yang ini ; “Amat sulit memahami rasionalitas dari mereka yang mengusulkan opsi A digabung dengan Opsi C menjadi sebuah obyek voting baru. Kita tidak perlu menjadi pakar ilmu roket untuk mengatakan opsi A (yang essensinya mengindikasikan “not guilty”) memiliki kontradiksi internal hakiki dengan opsi C ( yang basisnya mengindikasikan “guilty“)</p>
<p> “Hmm,,,,,” ketika itu saya membaca koran sembari mesam-mesem sendiri :)</p>
<p> Mau tahu, sesuatu yang tidak sadar pokok bahasan, bersumber dari perbuatan saya?</p>
<p>Ini sederhana, mungkin nggak level sama bahasan yang kondang diatas, tapi buat saya ini juga bisa jadi bahan telaah, khususnya buat saya.</p>
<p>O iya, ini tidak kalah seru sekaligus tidak kalah memalukannya, (alamak mau2nya saya berbagi tentang hal ini).</p>
<p>Begini ceritanya,..</p>
<p>Dua bulan yang lalu, kesabaran saya sedang diuji, pembantu rumah tangga, biasa saya dan anak saya panggil “mbak”, mendadak pulang dan tidak bisa kembali karena sesuatu alasan.</p>
<p>Maka mau tidak mau saya harus hunting yang baru. Satu, dua, hingga tiga orang gonta-ganti nggak jelas, hingga saya sedikit putus asa dan capek nge-briefnya alias memberi pengarahannya, sudah paham, bulan depannya ganti atau pulang, begitu seterusnya.</p>
<p>Hingga akhirnya yang ketiga, sudah mengendur semangat saya. Ritual yang biasa saya lakukan dengan memberikan brief jelas dan lengkap baik via lisan dan tulisan, saya tidak lakukan, tepatnya, saya kurangi.</p>
<p>Ya, saya hanya melulu menuliskan info tentang jadwal, nomor telp penting, menu masakan dsb. Meski masih saya beri visualisasi biar menarik. Pikir saya, daripada tulisan melulu, brief untuk si mbak saya beri simbol2 juga alias gambar yang menarik.</p>
<p>Itupun termasuk pada jadwal menu masakan sehari-hari. Senin sampai dengan Jumat saya sudah tulis lengkap, “ah,, mantap dah” pikir saya. Serasa mbak di rumah sudah seperti tim kreatif ketika dulu saya kerja di advertising agency …brief lengkap dengan data, deadline, mandatory dll…Semuanya harus jelas, lengkap tapi tidak boleh bertele-tele he2…</p>
<p>Hingga suatu hari, terasalah keganjilan itu. Kadang-kadang karena takut lupa, saya tempel pesan di kulkas, supaya si mbak tinggal baca dan bereslah agenda dengan si mbak. Tapi kok beberapa pesan di tempelan kulkas dia tidak laksanakan? Ketika saya tanya, jawabnya hanya lupa, maaf besok tidak diulangi.</p>
<p>“Ya sudahlah sabarrr.., daripada ganti lagi, artinya nge- brief lagi”, pikir saya. Suatu hari saya sempat pastikan, “ Mbak apa ada yang ditanya tentang jadwal atau info2 yang saya kasih buatmu? Ada yang ndak jelas?” Si mbak menjawab “tapi saya kalo kecil2 ndak bisa baca, bu”. Maka keesokan harinya saya cetak dengan teks yang lebih besar.</p>
<p> “Beres!”, pikir saya.</p>
<p>Tetapi lama-lama, masalah juga melanda menu masakan yang tidak sesuai dengan jadwal. Kadang suatu hari lauknya overlapping, sayurnya pake’ ayam, lauknya pake’ ayam lagi, atau sehari sayuran dua macam, tapi tanpa ada lauk, dst. Bekal anak untuk ke sekolah juga meleset dari daftar.</p>
<p>Agak habis kesabaran saya. Tapi saya tetap harus bertahan.</p>
<p>Hingga suatu malam, anak saya membukakan mata hati saya dan dengan malu saya menyadari; SAYA BUTA ESENSI</p>
<p>Anak usia 6 tahun yang baru senang-senangnya baca-tulis itu berkata pada saya, “ Ibu maaf ya” katanya.</p>
<p> “ Kenapa nak? Kok minta maaf”</p>
<p>“ Soalnya ituuuuu buuu…” kata dia lagi</p>
<p>“ Itu apa?, jawab saya penasaran</p>
<p>“ Itu lhooo… kata mbak kayaknya ibu kecewa ya? masaknya salah”</p>
<p>“ Terus? “</p>
<p>“ Iya itu kan soalnya gara-gara aku? “</p>
<p> “ Gara-gara kamu?,.. gimana sich, nak? “</p>
<p>&#8220;Iya soalnya aku lupa nggak bantu mbak bacain menunya???…</p>
<p>“ Maksudnya? “</p>
<p>“ Iyaaa,… mbak kan nggak bisa baca”</p>
<p>“Ya Allah”,……. desis saya dalam hati.</p>
<br />Filed under: <a href='http://eloktenan.wordpress.com/category/sekitar-ku/'>sekitar ku</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/eloktenan.wordpress.com/276/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/eloktenan.wordpress.com/276/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/eloktenan.wordpress.com/276/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/eloktenan.wordpress.com/276/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/eloktenan.wordpress.com/276/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/eloktenan.wordpress.com/276/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/eloktenan.wordpress.com/276/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/eloktenan.wordpress.com/276/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/eloktenan.wordpress.com/276/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/eloktenan.wordpress.com/276/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/eloktenan.wordpress.com/276/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/eloktenan.wordpress.com/276/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/eloktenan.wordpress.com/276/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/eloktenan.wordpress.com/276/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eloktenan.wordpress.com&amp;blog=7016960&amp;post=276&amp;subd=eloktenan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://eloktenan.wordpress.com/2010/03/09/buta-esensi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/258c69b24b6f5b67c4a0812be5b9149b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">eloktenan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Arisan Sapi</title>
		<link>http://eloktenan.wordpress.com/2010/03/05/arisan-sapi/</link>
		<comments>http://eloktenan.wordpress.com/2010/03/05/arisan-sapi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Mar 2010 08:23:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>eloktenan</dc:creator>
				<category><![CDATA[others]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://eloktenan.wordpress.com/?p=273</guid>
		<description><![CDATA[Masih lekat di ingatan, aku memakai baju rapi jali, tapi aku benci setengah mati. Ya benci karena baju itu serupa rok yang dipakai putri-putri yang biasa aku lihat di buku dongeng, terlalu rapi, penuh renda dan bahan yang tidak menyerap keringat, hah,,, pokoknya aku gerah, aku lebih bersyukur bila diperbolehkan mengenakan kaos oblong pujaanku dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eloktenan.wordpress.com&amp;blog=7016960&amp;post=273&amp;subd=eloktenan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Masih lekat di ingatan, aku memakai baju rapi jali, tapi aku benci setengah mati. Ya benci karena baju itu serupa rok yang dipakai putri-putri yang biasa aku lihat di buku dongeng, terlalu rapi, penuh renda dan bahan yang tidak menyerap keringat, hah,,, pokoknya aku gerah, aku lebih bersyukur bila diperbolehkan mengenakan kaos oblong pujaanku dan jeans atau jika terpaksa harus rok, minimal yang berbahan katun dan tidak berlengan panjang, satu lagi, tidak pakai sepatu dan kaos kaki, tetapi sepatu sandal Bata andalanku, ah leganya….</p>
<p>Tapi mana mungkin nenekku merelakannya!<br />
<span id="more-273"></span><br />
Ya benar, nenekku saja sudah berdandan luwes dan ayu seperti penyanyi keroncong, rambutnya disanggul, mengenakan kalung yang aku tak tahu benar apakah emas asli atau imitasi, menjuntai “stand out” di dadanya, semakin indah karena ada liontin berwarna merah. Pokoknya cantik sekali. Jangan sangsi dengan usianya yang sudah aku panggil nenek, menurutku beliau masih seksi, seksi di usia senja tepatnya, mengenakan kebaya merah jambu, tidak norak kok karena kulitnya terang, giginyapun rapi, putih bersih meski palsu, khususnya yang bagian depan. Untuk yang satu ini, kata ibuku, nenekku rela puasa asalkan dia bisa membeli gigi palsu putih itu. Semua lengkap dengan kain panjang dan selendangnya yang serasi.</p>
<p>Maka dituntun olehnya aku menaiki sebuah truk besar, yang bagian atasnya tertutup semacam terpal tebal berwarna hijau tua. Kami bergabung dengan ibu-ibu yang ternyata semuanya juga memakai kebaya, seingatku yang ketika itu kelas 3 SD, Semua ibu-ibu itu berkebaya dan memakai selop tinggi, tetapi mereka dengan mudahnya menaiki tangga truk yang sempit itu, tampak seperti telah biasa<br />
melakukannya. Kemudian kami duduk rapi di dalamnya berhadapan kanan dan kiri, tahukan kamu rasanya? Teramat amat sangat gerah sekali. Ditambah suara tangisan beberapa anak yang menangis minta turun, campur aroma minyak wangi, menyengat. Serasa aku sudah mau muntah saja, di kantong plastik yang aku selipkan di saku rokku yang terlihat bak putri ini.</p>
<p>Sepanjang perjalanan, semua Ibu-ibu itu asyik bercerita, sesekali melebarkan kipas lipatnya yang bearoma cendana, ada juga yang menyeka peluhnya dengan sapu tangan. Sesekali ada yang menanyakan aku kepada nenekku, “ cucunya ya bu Tini? Lucu sekali, rambut, matanya, pipinya putih seperti anak Cina, “.</p>
<p>Sesekali mereka mencubit pipiku gemas. Anehnya, nenekku menjawab, “ya dia memang cucuku yang dari Cina”. Meski masih kanak-kanak aku tentu tak bisa dibohongi, mana mungkin aku anak Cina? Jelas-jelas bapak-ibuku Jawa?” ketika aku tanya kepada nenek, “nek kenapa aku dibilang anak Cina? dengan entengnya beliau berkata, ya, karena kamu mirip anak orang kaya, biasanya anak orang kaya kulitnya putih mirip anak Cina”</p>
<p>ah..nenek ada-ada saja</p>
<p>Beberapa menit kemudian sampailah aku di tujuan, ya aku memasuki komplek tentara, markas tentara tepatnya, luas betul areanya, maklumlah ada beberapa tank dan truk tentara di parkir disana, lengkap dengan lapangan hijaunya yang luas, pohon berbaris rapi, lengkap dengan beberapa halang rintang, dan papan luncur tinggi untuk beberapa tentara berlatih, kalau tidak salah serupa wall climbing yang aku lihat di mal-mal atau stadion tempat mangkal anak muda jaman sekarang.</p>
<p>Sesekali lewat barisan tentara tengah berlari sambil bernyanyi “ ayo lari…ayo lari… tiap hari..tiap hari…badan sehat….” Ah aku lupa kelanjutannya.</p>
<p>Sebelum memasuki area, seperti biasa kami melewati tentara yang seperti biasa aku lihat di kaleng Biscuit Monde, diam tidak bergerak , hanya saja ini berwarna hijau seragamnya, lengkap dengan helm dan senjata. Setelah melewati pos jaga, tidak susah bagi kami untuk memasuki area mengingat kendaraan yang kami tumpangi adalah truk tentara.</p>
<p>Hari itu aku turut serta dengan nenek untuk mengikuti arisan, kakek sudah berada di sana dari pagi, ketika berangkat kerja. Kami menyusulnya sekira 3 jam sesudahnya, tidak susah bagi kami berkumpul karena kami semua tinggal di asrama tentara. Kakek bukan tentara, lebih tepatnya di bagian administrasi untuk melakukan inventarisasi kendaraan besar, semacam bengkel tentara. Tetapi kakek tetap dapat asrama dan tinggal disana.</p>
<p>Ketika liburan, aku “dikirim” ke rumah nenek dan tinggal beberapa hari disana. Di asrama aku biasa menghabiskan waktu, bermain-main dengan teman kecilku, diantara truk-truk tua yang sudah tidak beroperasi, bau pesing kotoran kelelawar, oli, solar dan beberapa minyak pelumas aku masih ingat.</p>
<p>Aku bisa puas naik mobil-mobil besar itu, berpura-pura mengendarainya serasa ikut perang, tidak ada sedikitpun kengerian meski ban mobilnya saja sebesar badanku, atau deretan kelelawar yang menggantung diam tapi lumayan banyak diatas kepalaku, langit-langit garasi cukup tinggi, tempatnya juga tidak terlalu terang, tampak sinar matahari menerobos diantara genting berlumut, suasananya adem, angin semilir, sesekali segerombolan burung gereja hinggap mendekat dan bila kami berteriak suara kami bergema, hai…hai..hai…ai..i….kamu…mu…mu…uu..</p>
<p>Buat kami, yang ada hanya perasaan bermain yang seru. Kalau tiba-tiba perut mulas atau sekedar ingin buang air kecil, maka dengan mudahnya kami berlari ke sungai yang mengalir jernih. Tidak jauh dari garasi kendaraan-kendaraan tua itu.</p>
<p>Siang itu nenekku dan beberapa ibu-ibu di asrama tentara, akan melakukan arisan, arisan sapi namanya. Seperti arisan panci yang hasilnya adalah panci, maka kata nenekku, dinamakan arisan sapi karena memang hasilnya adalah sapi, ya daging sapi yang akan dibagi-bagi. Sapi yang gemuk itu sudah menunggu di lapangan belakang. Aku bertemu kakekku, mencium tangannya, untuk kemudian beliau mengantarku melihat lebih dekat sapi itu.</p>
<p>Sementara itu, nenekku dan ibu-ibu berkebaya itu masuk ke hall, untuk menghadiri acara, persisnya aku tidak tahu, semacam pengarahan mungkin atau silaturahmi istri-istri tentara, entahlah. Karena aku tidak betah di dalam, sesudah menghabiskan puding yang diberi oleh nenekku, pikiranku sudah tidak sabar untuk melihat sapi yang kata kakekku mau disembelih itu.</p>
<p>Benar saja, ketika aku telah di lapangan kembali, Sapi itu sudah tergeletak, melenguh tidak berdaya, keempat kakinya dijerat, sehingga mau tidak mau tumbanglah dia, pasrah menunggu jagal yang siap menyembelih lehernya. Setelah doa, maka cuuurrrr….. darah dari leher sapi itu mengucur dengan derasnya, berkelejat-kelejat beberapa lama untuk kemudian tidak bergerak-gerak lagi, aku ngeri tapi tidak berpaling, sesekali menutup wajah dengan jari, tetapi jari menutup tidak rapat benar. Sapi yang tak bernyawa itu dibersihkan persis disamping sungai kecil yang mengalir dan jernih, lagi sejuk airnya, sesekali aku ikut-ikutan, mengambil potongan babat, mengeluarkan isinya yang tidak lain adalah kotoran sapi. Barulah aku tahu bahwa babat goreng atau soto yang enak itu tidak lain adalah tempat kotoran sapi hi2..</p>
<p>Sebentar kemudian, sapi gemuk yang telah dikuliti itu, pun sudah terbagi-bagi, ada dagingnya, kepala, kaki, ekor, hingga jerohannya; babat, usus, hati, paru dll.</p>
<p>Aku tidak tahu, sementara beberapa orang membagi-bagi daging sapi, ternyata ada beberapa bagian yang telah dimasak gulai sapi, maka tak lama kemudian, nenek memanggil aku untuk masuk hall, kakekku sudah terlebih dahulu disana. Di dalam hall aku disuapi nasi gulai sapi, tambah krupuk udang, hmm… nikmat sekali.</p>
<p>Tibalah waktu kami untuk kembali, kali ini truk lebih sesak karena beberapa suami turut serta, sebagian besar tentara, hanya sedikit yang berpakaian seragam sipil seperti kakekku. Tampak berseri kulihat wajah keluarga-keluarga itu, tak lupa masing-masing menenteng kantong berisi daging sapi. Kata nenekku, sapi itu adalah buah dari gotong-royong dan sikap sabar para keluarga itu, mereka menyisihkan dan mengumpulkan uang untuk beberapa lama, barulah kalau sudah cukup dibelikan sapi, karena dengan cara begitulah keluarga-keluarga sederhana di asrama itu bisa menikmati nikmatnya makan daging sapi.</p>
<p>Bagiku daging sapi itu menjadi istimewa sekali, bagaimana tidak, sepulang dari arisan sapi, maka nenekku bisa memasak dendeng, gulai dan beberapa masakan lain yang berbahan daging sapi, selama beberapa hari. Demikian juga beberapa tetangga di asrama itu tentunya.</p>
<p>Seingatku, asrama tentara itu adalah rumah yang berjejer padat dan disekat, penerangan seadanya, bahkan rumah antara keluarga satu dan lainnya hanya berbatas tembok dengan genting tanpa plafon, sehingga bila aku menangis nenek akan berkata padaku, “apakah kamu tidak malu, didengar tetangga sebelah?”. Benar saja, beberapa menit kemudian suara tetangga terdengar, “hayooo siapa itu yang menangis? “ …. Ah aku biasanya menjadi malu dan tangisku berhenti sendiri.</p>
<p>Demikian pula bila tiba waktu mandi, jangan bayangkan rumah yang berjejer itu memiliki kamar mandi sendiri-sendiri, apalagi seperti kamar mandi di rumah-rumah mewah jaman sekarang, yang ada kamar mandinya di dalam kamar tidur. Aih tidak seperti itu, kamar mandi itu tampak besar sekali, dengan bak mandi yang tentu juga besar. Airnya jernih, dinginnya seperti air dari kulkas. Tidak ada sekat selain terpisah bangunan untuk lelaki dan wanita, selanjutnya semuanya biasa mandi dan bugil bersama-sama, sesuai jenis kelaminnya. Sesudah mandi mereka akan berkalung handuk, menenteng baju kotor, dan timba kecil berisi peralatan mandi. Semuanya serba amat sederhana kalau tidak disebut terbatas.</p>
<p>Maka mengertilah aku kini, kenapa dulu nenek dan ibu-ibu di asrama itu, harus arisan berbulan-bulan dulu untuk menikmati daging sapi.</p>
<p>Kini bahkan setelah dua puluh tahun lebih, aku masih teringat tentang rumah tentara, juga arisan sapi.</p>
<p>Suatu pagi aku melewati perumahan yang tampaknya deretan rumah tentara juga. Tapi ini agaknya beda, masing-masing tanah rumahnya hampir seluas lapangan bola, kendaraan yang hilir mudik, pun tak kalah mewah, berplat khusus tidak seperti plat mobilku.</p>
<p>Aku bertanya dalam hati, “apakah tentara yang ini juga ikut arisan sapi ?”</p>
<p>Cibubur, Kamis, 4 Maret 2010</p>
<br />Filed under: <a href='http://eloktenan.wordpress.com/category/others/'>others</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/eloktenan.wordpress.com/273/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/eloktenan.wordpress.com/273/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/eloktenan.wordpress.com/273/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/eloktenan.wordpress.com/273/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/eloktenan.wordpress.com/273/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/eloktenan.wordpress.com/273/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/eloktenan.wordpress.com/273/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/eloktenan.wordpress.com/273/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/eloktenan.wordpress.com/273/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/eloktenan.wordpress.com/273/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/eloktenan.wordpress.com/273/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/eloktenan.wordpress.com/273/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/eloktenan.wordpress.com/273/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/eloktenan.wordpress.com/273/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eloktenan.wordpress.com&amp;blog=7016960&amp;post=273&amp;subd=eloktenan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://eloktenan.wordpress.com/2010/03/05/arisan-sapi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/258c69b24b6f5b67c4a0812be5b9149b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">eloktenan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dua Puluh Lima Juta Rupiah</title>
		<link>http://eloktenan.wordpress.com/2010/03/05/dua-puluh-lima-juta-rupiah/</link>
		<comments>http://eloktenan.wordpress.com/2010/03/05/dua-puluh-lima-juta-rupiah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Mar 2010 08:20:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>eloktenan</dc:creator>
				<category><![CDATA[sekitar ku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://eloktenan.wordpress.com/?p=270</guid>
		<description><![CDATA[Lagi-lagi masalah komunikasi, niat baik, hati nurani, kepekaan sosial atau apalah segudang istilah lainnya yang lebih tepat menjadi ungkapan, sehingga menimbulkan keresahan seorang anak manusia, Fitria namanya. Malam itu sekali lagi Fitria mengingatkan Ibunya, “Bu besok sudah hari terakhir mengumpulkan sumbangan untuk Hari Raya Qurban lho” , pintanya dengan sedikit keraguan bercampur harapan yang tersisa, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eloktenan.wordpress.com&amp;blog=7016960&amp;post=270&amp;subd=eloktenan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Lagi-lagi masalah komunikasi, niat baik, hati nurani, kepekaan sosial atau apalah segudang istilah lainnya yang lebih tepat menjadi ungkapan, sehingga menimbulkan keresahan seorang anak manusia, Fitria namanya.<br />
<span id="more-270"></span><br />
Malam itu sekali lagi Fitria mengingatkan Ibunya, “Bu besok sudah hari terakhir mengumpulkan sumbangan untuk Hari Raya Qurban lho” , pintanya dengan sedikit keraguan bercampur harapan yang tersisa, kalau-kalau Ibunya memberi jawaban yang lain daripada seminggu yang lalu, ketika pengumuman tentang sumbangan dalam rangka peringatan Hari Raya Qurban atau Idhul Adha di sekolah Fitria, dia sampaikan pada ibunya.</p>
<p>Tetapi tampaknya Fitria tak bisa berharap banyak, mengingat kali ini jawaban ibunya pun serupa dengan sebelumnya, “ Iya, Fit, nanti Ibu tanya lagi sama bapakmu, lagian sekolahmu ada-ada saja sich, nyumbang dimana-mana bukannya sukarela, ini malah disebutin Rp 50,000 mana keperluan lagi pada ngantri begini, kok ada-ada aja sich sekolahmu itu, ya sudah tidurlah nak, nanti malam kalau bapak pulang coba ibu tanyakan lagi, kalau bapak sudah ada duitnya, besok pagi-pagi Ibu sediakan di meja makan, kalau belum ada juga, ya coba nanti kita pikirkan lagi”</p>
<p>Ah sungguh jawaban yang kurang melegakan buat Fitria. Pun alasannya, apakah karena jumlah sumbangan yang ditentukan sekolah atau karena uang Rp 50,000 itu terasa memberatkan bagi kedua orang tuanya.</p>
<p>Fitria benar-benar menjadi buntu. tidak terima keadaan, kenapa untuk menyumbang senilai Rp 50,000 itu, tidak semudah teman-teman lainnya di sekolah. Sebenarnya dia tidak begitu buta untuk merasakan apa sebenarnya yang menjadi kendala, ya, uang itu, besarnya sumbangan itu.</p>
<p>Meski Ibunya tempo hari sempat bilang padanya” duh Fit, sebenarnya ya Ibu ini senang-senang saja, kalau bisa menyumbang untuk patungan beli kambing atau sapi dan disembelih di sekolahmu. Masak iya sih keberatan, kalau dipikir-pikir uang Rp 50,000 itu kan rasanya masih bisa dan mampu lah kita, sepeda motor masih punya, biar sederhana makan juga kita nggak pernah telat. Tapi memang keadaan lagi mendesak nak, ini Ibu juga siang malam ngerjain pesanan jahitan, nanti hasilnya juga udah antri untuk bayar buku kakakmu, coba ya nak, sabar saja, siapa tahu besok bapak ada rejeki”.</p>
<p>Untuk itu kadang-kadang Fitria mahfum dengan segala informasi yang dia terima dari Ibunya, tentang uang, tentang kebutuhan dan tentang perihal lainnya apabila Fitria mempunyai keinginan, apakah keinginannya sendiri atau yang sifatnya perintah dari sekolahnya misalnya.</p>
<p>Tetapi menjadi ABG ( anak baru gede) dengan segudang teman dan latar belakang yang beragam itu, tak ayal kadang membuat Fitria gamang. Dia tidak cukup percaya diri untuk berlaku tidak sama dengan teman-temannya. Termasuk kali ini, ketika status pembayaran uang sumbangan Qurban dari sebagian besar teman kelasnya sudah terbayar, tetapi tidak demikian dengan Fitria.</p>
<p>“ah sudahlah, aku tidur saja”. gerutu Fitria dalam hatinya yang sedang gundah. Sebelum tertutup matanya masih sempat dia berujar ” Ya Allah semoga Kau mudahkan rejeki untuk Bapakku, supaya besok pagi aku bisa bayar sumbangan Qurban, aku malu ditanya Pak guru melulu” tanpa terasa pipi Fitria terasa panas, beberapa butir air mata meleleh di pipinya. Kemudian dia terlelap.</p>
<p>Seperti kakaknya, Fitria memang lumayan encer otaknya, sehingga keduanya bisa diterima di sekolah favorit di kawasan Jakarta Selatan, segudang predikat indah dimiliki sekolahnya, mulai berstandar international, sekolah percontohan, sampai sekolahnya anak orang kaya.</p>
<p>Nah yang terakhir ini agaknya, dampak signifikan dari sekolahnya yang bermutu, maksudnya karena sekolahnya adalah gudang anak pintar dan kurikulum berkualitas, maka orang kaya pun berbondong-bondong untuk menyekolahkan anaknya di sana. Adapun Fitria, bisa diterima di sekolah itu karena nilainya masuk kriteria, perihal orang tuanya yang tidak kaya, bapaknya pernah berkata, “ Fitria kita boleh tidak kaya, tapi jangan kecil hati nak, yang penting kamu sekolah dan belajar yang rajin, bapak berusaha keras, agar kelak kamu jadi “orang” , maksudnya jadi orang adalah jadi manusia sukses dan berguna.</p>
<p>Hanya saja, di sekolah berpredikat baik yang orang kayanya mayoritas itu, kegiatan lain-lainya juga menjadi indah dan dilaksanakan dengan seksama, termasuk perayaan Hari Raya Qurban dengan minta sumbangan dari murid-muridnya.</p>
<p>Menjadi kendala buat Bapak Fitria, karena ternyata pada saat yang sama, sedang tidak manis kondisi keuangannya, gaji dari kantor beberapa bulan telat, berbarengan dengan kebutuhan sekolah kakaknya, jadwal bayar kontrakan dll, semuanya juga membuat Ibunya pening kepala, meski ibunya tergolong masternya dalam berhemat dan mengolah gaji Bapak Fitria supaya cukup hingga saat gajian kembali datang.</p>
<p>Pagi itu Fitria telah rapi dengan seragam sekolahnya, bersiap-siap berangkat dan mengambil tas sekolahnya, tetapi sebelum dia berpamitan dan mencium tangan kedua orang tuanya, hatinya jadi lemas, serasa hari itu tidak bergairah, demi melihat di meja makan tidak ada uang yang dijanjikan ibunya semalam.</p>
<p>“ Coba kamu tanya gurumu Fitria, apakah boleh menyumbang sukarela ? kalau kurang dari Rp 50,000 bagaimana?” Kalimat itu keluar dari mulut bapaknya yang sedang siap-siap ke kantor sembari memanaskan mesin sepeda motornya.</p>
<p>“ Ah bapak, aku malu, aku nggak mau, bapak aja yang bilang pak guru, masak Rp 50,000 nya nggak ada, kan sudah dikasih waktu seminggu? “ setengah menangis Fitria merengek pada bapaknya, buru-buru dia usap air matanya, khawatir matanya terlihat sembab oleh teman-temanya di sekolah.</p>
<p>“Coba kamu bilang dulu Fitria? “ jawab bapaknya datar. Sejatinya hancur perih pula hati bapaknya melihat putrinya harus menanggung rasa, gelisah hati, merengek dan harus tabah, untuk uang yang sepertinya hanya Rp 50,000 itu, tapi apa daya hari itu dia benar-benar tidak bisa memberikannya.</p>
<p>Akhirnya dengan langkah gontai dan semangat layu, Fitria menguatkan diri untuk berangkat ke sekolah.</p>
<p>Sesampainya di sekolah, pesan dari bapaknya dia pertimbangkan untuk disampaikan kepada gurunya, tetapi niat itu menjadi runtuh, Fitria mencoba mengumpulkan segala tekad dan keberaniannya, tetapi ah,..dia lihat semua teman-temanya tengah membayarkan sumbangan itu dan tak jauh dari meja Pak Guru ada Ikhsan! Ya Ikhsan, teman sekelas yang cukup menaruh perhatian padanya dan begitupun sebaliknya.</p>
<p>“ Apa jadinya kalau Ikhsan tahu, masak nyumbang 50,000 aja tidak mau, pelit amat ? “ atau “ ah nanti Ikhsan jadi iba padanya? Mana mungkin lagi naksir orang dan orangnya jadi Iba? Aaaarrgghhhhh…..” Fitria bingung bukan kepalang dan dengan berat hati dia tidak menuruti pesan bapaknya. Yang bisa dilakukannya hanya diam saja, pasrah hingga nanti ditanya gurunya.</p>
<p>Tetapi prediksi Fitria meleset, dia tidak dipanggil oleh Gurunya, tapi buat Fitria akibatnya lebih dasyat dari itu.</p>
<p>Tanpa dinyana-nyana, seusai sholat dhuhur, terdengar pengumuman dari gurunya tentang rencana kegiatan Hari Raya Qurban, termasuk di beberapa menit sebelum Guru mengakhiri pengumumannya adalah menyebutkan nama beberapa anak yang belum membayar sumbangan.</p>
<p>Fitria yang tengah merapikan peralatan sholatnya, kaget tidak menyangka, dia tak kuasa menatap tatapan teman-temannya, meski teman-temannya tak berkata apa-apa, tetapi buat Fitria sudah serupa ratusan mata menghakimi dan mengejeknya, jangankan Ikhsan, atau teman sekelasnya, bahkan sholat dhuhur itu diikuti seluruh murid kelas satu dan dua.</p>
<p>Fitria tertunduk malu, serasa memerah mukanya, dadanya bergemuruh, berkecamuk hatinya, campur aduk tidak beraturan, antara berusaha memahami kondisi orang tuanya, dengan menahan perasaan, karena kondisinya tidak sama dengan kebanyakan temannya. Saat itu yang mendominasi hatinya tidak ada lain selain malu.</p>
<p>Disaat itu juga, Fitria meraih handphone esianya, mengirim sms pada bapaknya, “Bapak tolongg…banget… kapan sumbangannya bisa dibayar? Aku malu, siang ini diumumkan di masjid sekolah, aku malu bapak, aku malu” dan tak lupa dia tambahkan tanda cemberut di akhir pesan singkatnya.</p>
<p>Di saat yang sama, Bapaknya membaca pesan dari anaknya, “ Astagfirullah… gumamnya, apa iya sekolah itu benar-benar tidak bisa bijaksana, emosi seraya hinggap di ruang hati Bapak Fitria. Maka seusai mengantar dokumen tugas kantornya, Bapak Fitria segera menuju sekolah anaknya, sesampainya disana, dia temui guru sesuai keterangan anaknya, tanpa sepengetahuan Fitria.</p>
<p>Bapaknya menjelaskan duduk persoalannya, sesudah itu Bapak Fitria tampak benar-benar pasrah.</p>
<p>“ Apapun yang akan terjadi dari sekolah, terjadilah, tetapi jangan sekali-kali membuat hati anakku ciut, menciutkan hatinya tidak jauh beda dengan menghancurkan hati putri kesayanganku dan aku bapaknya tidak sedikitpun akan rela” demikian pikirnya</p>
<p>Beberapa menit selanjutnya, Bapak Fitria terperangah mendengar keterangan dari Guru anaknya.</p>
<p>“ Ohh… Masya Allah, baik,..baik Pak, tidak menjadi masalah, bahkan kami tidak haruskan menyumbang sama sekali, jika demikian kondisinya. Saya justru berterima kasih kalau bapak terus terang begini, saat ini selain akan menyembelih hewan Qurban, kami juga menerima bantuan dari Pemerintah sebesar Rp 25 juta rupiah untuk disalurkan kepada murid-murid yang dalam kondisi ekonomi lemah asalkan ada keterangan tidak mampu dari RT dan RW. Tetapi program ini hingga kini belum berjalan lancar karena tidak banyak yang mengajukan, apakah bapak perlu kami catatkan untuk menerima bantuan tersebut? “</p>
<p>Sesaat Bapak Fitria terkesima, tapi buru-buru dijawabnya “ Terima kasih pak, Saya mohon maaf bila tidak turut serta dalam pembelian hewan Qurban di sekolah Fitria kali ini, tetapi sumbangan itu saya rasa tidak untuk kami, biarlah yang lain mungkin lebih membutuhkannya, saya sudah cukup terima kasih atas pengertian bapak tentang sumbangan hewan Qurban”</p>
<p>Bapak Fitria kemudian kembali ke kantor, di sepanjang perjalanan, di atas sepeda motor bututnya, dia tak habis pikir seraya bergumam “ bodoh betul itu pak guru, mendata muridnya yang tidak mampu saja, menemui kesulitan atau karena yang mau di beri sumbangan pada gengsi? nggak mau repot minta surat keterangan? Buktinya aku tadi ditawari juga tidak mau? Apa aku gengsi juga? Ah rasanya bukan karena itu! Atau memang di sekolah itu benar-benar tidak ada orang tua murid yang tergolong tidak mampu ? ah mungkin betul juga guru itu, mengkategorikan mampu dan tidak mampu bukan masalah gampang di Jakarta ini, yang mampu tak segan mengaku kurang mampu, yang pas-pasan pun enggan mengaku atau tidak mau dibilang butuh bantuan? ah masa iya? atau ??? “,…. Ah Bapak Fitria tidak lagi peduli.</p>
<p>Yang dia rasa hanya syukur, ketika di kantor seusai Sholat Ashar, dia terima pesan dari putrinya “ Assalamualaikum Bapak, kata pak guru, sumbangan Qurbannya sudah beres, terima kasih pak, Fitria sayang bapak, Wassalam”.</p>
<br />Filed under: <a href='http://eloktenan.wordpress.com/category/sekitar-ku/'>sekitar ku</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/eloktenan.wordpress.com/270/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/eloktenan.wordpress.com/270/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/eloktenan.wordpress.com/270/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/eloktenan.wordpress.com/270/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/eloktenan.wordpress.com/270/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/eloktenan.wordpress.com/270/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/eloktenan.wordpress.com/270/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/eloktenan.wordpress.com/270/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/eloktenan.wordpress.com/270/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/eloktenan.wordpress.com/270/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/eloktenan.wordpress.com/270/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/eloktenan.wordpress.com/270/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/eloktenan.wordpress.com/270/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/eloktenan.wordpress.com/270/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eloktenan.wordpress.com&amp;blog=7016960&amp;post=270&amp;subd=eloktenan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://eloktenan.wordpress.com/2010/03/05/dua-puluh-lima-juta-rupiah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/258c69b24b6f5b67c4a0812be5b9149b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">eloktenan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>L a i l a</title>
		<link>http://eloktenan.wordpress.com/2010/02/12/l-a-i-l-a/</link>
		<comments>http://eloktenan.wordpress.com/2010/02/12/l-a-i-l-a/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Feb 2010 03:42:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>eloktenan</dc:creator>
				<category><![CDATA[sekitar ku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://eloktenan.wordpress.com/?p=266</guid>
		<description><![CDATA[“Suamiku orang Padang jadi Alhamdulilah anakku putih-putih juga, nggak kayak aku!” “Eh,..Suamimu putih nggak?” “Gimana ? sekarang udah pake jilbab?” “Eh suamimu kerja apa? alhamdulilah jelek2 gini suamiku area manager lho lok..!” “Alhamdulillah wis tak syukuri aja lok, meski dia agak kurang romantis,…hi2..” dan maaaasiiiih banyak lagi kalimat-kalimat lain yang keluar dari mulut teman saya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eloktenan.wordpress.com&amp;blog=7016960&amp;post=266&amp;subd=eloktenan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“Suamiku orang Padang jadi Alhamdulilah anakku putih-putih juga, nggak kayak aku!” “Eh,..Suamimu putih nggak?” “Gimana ? sekarang udah pake jilbab?” “Eh suamimu kerja apa? alhamdulilah jelek2 gini suamiku area manager lho lok..!” “Alhamdulillah wis tak syukuri aja lok, meski dia agak kurang romantis,…hi2..” <span id="more-266"></span></p>
<p>dan maaaasiiiih banyak lagi kalimat-kalimat lain yang keluar dari mulut teman saya ini secara cepat, lugas khas Jawa Timur dan bertubi-tubi. Sebut saja namanya Laila, teman lama semasa SMA. Kerinduan itu menggiring kami kepada dialog yang begitu asyiknya, dengan cara yang cukup mendadak pula.</p>
<p>Ceritanya sampai Laila bisa menelpon sayapun juga dari kebaikan teman lama yang saya temukan di facebook. Sementara, facebook Laila? Dia tidak punya, dan belum mau bikin katanya, karena tidak boleh suaminya ! he2…</p>
<p>Pada menit-menit selanjutnya, tersadarlah saya, bahwa ternyata saya tak sempat banyak berkata-kata, sempat saya menyela, spontan Laila berkata, “tunggu duluuu… aku ngomong dulu, ini seru nanti aku lupa”, tenang aja, nanti kamu dapat gilirannya! Aku nelponnya bakalan lama sampe bateraimu habis wis!, aku kan ngabisin jatah talk mania, semua udah tak telp, tak pikir-pikir sapa lagi yang tak telp eh aku ingat kamu! Ha2…. Laila..Laila sebegitu hebohnya, maka di beberapa menit selanjutnya saya putuskan untuk menjadi pendengar setia.</p>
<p>Siang itu saya habiskan waktu istirahat makan siang dengan menyuap nasi yang dibekali si mbak dari rumah, sembari sibuk memindahkan handphone ke kanan dan ke kiri, saking terasa panasnya telinga saya. Sejujurnya meski awalnya saya terbata, gagap menjawab pertanyaan-pertanyaan yang kadang nggak penting itu …,tapi lama-lama saya menikmatinya, ya menikmatinya !</p>
<p>awalnya mesam-mesem hingga tergelak tawa. Laila bicaraaaaa… terus, dengan khas logat Jawa Timuran, saya pun mengeluarkan gaya bahasa andalan kami itu he2… Kami langsung bernostalgia, Laila sibuk mengabsen teman-teman kami, tanpa sempat memberi pertanyaan kepada saya (meski buat saya juga nggak penting, nggak ditanya juga nggak apa2 he2.. hanya karena kebiasaan saja)</p>
<p>Di awal pembicaraan, Laila sedikitpun tidak memberi pertanyaan kepada saya, meski itu adalah kali pertamanya dia menelpon, setelah lebih dari 15 tahun kami tidak berkomunikasi. Sedikitpun dia tidak tanya; Apa kabar? saya tinggal dimana? Kerja dimana? Sedang apa? lagi meeting nggak ? ( he2… yang terakhir ini saya jadi hapal karena biasanya yg nelp suka bertanya ttg hal itu).</p>
<p>Yang Laila tahu dan mau tahu hanyalah mau bercerita kepada saya teman lamanya sebangku dahulu, titik! tidak pake koma!</p>
<p>“Halo..halo… Tunggu ya lok, aku matiin dulu, mumpung tetanggaku kelihatan tuch, aku mau kembaliin panci dulu hi2… ok..ok?&#8230;” “Tenangggg… aku hari ini cuti, tapi cuman sehari ini! Besok kerja lagi aku ndak bisa nelp atau di telp lama lagi! nanti tak telp lagi ok? ok??” dan pet…! Dimatikannya handpohonenya dengan akhiran yang sekonyong-konyong usai. Kalau pesawat landingnya “nyungsep” he2…</p>
<p>Sore nya dalam perjalanan pulang dari kantor, saya jadi ingat Laila,.. data panggilan ke handphone saya sehari itu dari Laila jadi stand out. Gimana tidak, lha nelp hebohnya seperti itu? Sebentar mati, sebentar nyambung lagi, meski ada beberapa panggilan miscall atau saya jawab “nanti dulu ya? suorry lagi ribet” dan Laila dengan santainya menjawab “wis nggak pa2,,,sippp lah ! nanti saja, pokoknya ingat sebelum jam 5 ya? biasaa..jatah talkmaniaa..he2”</p>
<p>Akhirnya saya coba-coba menerka, masuk di ingatan saya, kenapa ya?</p>
<p>adalah gaya bahasanya, gaya lugunya, tanpa basa-basi apalagi tendensi, jujur, semangat berbagi cerita bahagia atau sedih, lengkap lah. Ya itu!…mungkin itu ! Dia berkomunikasi dengan apa adanya… mungkin sekali-sekali kita merindukan seperti itu, tanpa mikir dikejar waktu, konsen saat itu lalu segera handle yang lain sesudah itu, tanpa mikir ada untung ruginya, tanpa peduli siapa elu siapa gue. Tanpa mumet deadline atau tidak, tanpa kuatir negonya tembus saat itu atau bersabar dengan kesuksesan yang tertunda (halahh..) tanpa sibuk mikir sana suka atau tidak, dsb</p>
<p>Tetapi diluar dari semua itu, rasanya muaranya adalah juga pertemanan</p>
<p>Laila dan saya berteman bahkan bersahabat, sehingga kami punya cerita, untuk diceritakan kembali setelah sekian lama tak bersua.</p>
<p>Berteman itu indah</p>
<p>Bersahabat itu melipatgandakan bahagia, mengurangi lara</p>
<p>Saya sepakat dengan 2 kata mutiara yang saya pernah baca;</p>
<p>Sahabatmu adalah kebutuhan jiwamu yang terpenuhi. Dia lah ladang hatimu, yang dengan kasih kautaburi dan kau pungut buahnya penuh rasa terimakasih. Kau menghampirinya dikala hati gersang kelaparan, dan mencarinya dikala jiwa membutuhkan kedamaian. Janganlah ada tujuan lain dari persahabatan kecuali saling memperkaya jiwa (Kahlil Gibran)</p>
<p>Atau buat teman-teman di facebook yang hobi koleksi teman saja, tanpa menyentuhnya dengan komunikasi hi2… inget deh yang satu ini :</p>
<p>Manusia yang paling lemah ialah orang yang tidak mampu mencari teman. Namun yang lebih lemah dari itu ialah orang yang mendapatkan banyak teman tetapi menyia-nyiakannya( Ali bin Abu Thalib)</p>
<p>Selamat berteman, sahabat !</p>
<br />Filed under: <a href='http://eloktenan.wordpress.com/category/sekitar-ku/'>sekitar ku</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/eloktenan.wordpress.com/266/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/eloktenan.wordpress.com/266/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/eloktenan.wordpress.com/266/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/eloktenan.wordpress.com/266/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/eloktenan.wordpress.com/266/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/eloktenan.wordpress.com/266/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/eloktenan.wordpress.com/266/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/eloktenan.wordpress.com/266/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/eloktenan.wordpress.com/266/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/eloktenan.wordpress.com/266/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/eloktenan.wordpress.com/266/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/eloktenan.wordpress.com/266/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/eloktenan.wordpress.com/266/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/eloktenan.wordpress.com/266/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eloktenan.wordpress.com&amp;blog=7016960&amp;post=266&amp;subd=eloktenan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://eloktenan.wordpress.com/2010/02/12/l-a-i-l-a/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/258c69b24b6f5b67c4a0812be5b9149b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">eloktenan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Cinta,&#8230;cinta,&#8230;cinta,&#8230;</title>
		<link>http://eloktenan.wordpress.com/2010/02/04/cinta-cinta-cinta/</link>
		<comments>http://eloktenan.wordpress.com/2010/02/04/cinta-cinta-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Feb 2010 06:38:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>eloktenan</dc:creator>
				<category><![CDATA[sekitar ku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://eloktenan.wordpress.com/?p=263</guid>
		<description><![CDATA[Adalah beberapa kalimat dibawah ini yang tema pada statusnya kira-kira sejumlah 7 dari 10 teman saya di facebook (fb), sedang jatuh cinta. hayah.. kayak Iklannya Rexona he2 I Love U, I Love U, I Loveuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu…… Joni cinta Fitri (mungkin maksudnya biar kayak Judul Sinetron Bayu Cinta Luna ) Rindu Setengah Mati Risa Andini sedang merindu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eloktenan.wordpress.com&amp;blog=7016960&amp;post=263&amp;subd=eloktenan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Adalah beberapa kalimat dibawah ini yang tema pada statusnya kira-kira sejumlah 7 dari 10 teman saya di facebook (fb), sedang jatuh cinta. hayah.. kayak Iklannya Rexona he2</p>
<p>I Love U, I Love U, I Loveuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu……<span id="more-263"></span></p>
<p>Joni cinta Fitri (mungkin maksudnya biar kayak Judul Sinetron Bayu Cinta Luna <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> )</p>
<p>Rindu Setengah Mati</p>
<p>Risa Andini sedang merindu</p>
<p>Kangen kamu..kamu..kamu!.</p>
<p>Bersama pujaan hati Bagus Utomo</p>
<p>Lagi nonton berdua Vina, sapa mau jadi obat nyamuknya?</p>
<p>Apa Kabar Cinta?</p>
<p>Utomo went from being “single” to “ in a relationship”</p>
<p>Alamakkk serunya! <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Karena teman saya di Fb beragam; mulai teman semasa kanak-kanak sampai teman kerja, termasuk keponakan, maka tak ayal lagi, saya mendapatkan tambahan kosa kata tentang cinta, mulai gaya bahasa anak SMA sampai bahasa seorang Corporate Communication Head yang lebih jaim, lebih dalem atau pilihan katanya lebih marai mumet he2..</p>
<p>Atau,… pikir saya, bisa juga jelas beda karena itu otomatis signifikan dengan kematangan jiwanya, frame of reference yang dimiliki atau field of experience- nya ( halahh…) tapi tema-nya tetap sama, yakni : C I N T A</p>
<p>He2… seingat saya, waktu masih ABG dulu, urusan menyatakan cinta nggak senekat sekarang, oleh karenanya, saya sebagai generasi yang agak-agak tuwir ini, rasanya tak henti-hentinya mau ketawa atau sejujurnya heran, ketika membaca status-status itu. Ada yang mempostingnya di wall atau dibuat status yang di tag dengan pasangannya, sehingga akan muncul di status berwarna biru dan bisa di klik/link ke profile si empunya nama.</p>
<p>Mungkin jamannya sudah berubah, sudah lebih terbuka, lebih ekpresif atau dasarnya narsis ha2.. entahlah,..</p>
<p>Termasuk ketika membaca postingan teman di Fb : AKU CINTA PADAMU<br />
kemudian yang punya wall menjawab : I LUV U TOO..<br />
saya berujar dalam hati alamaakkkk… ( lagiii <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> )…</p>
<p>Membaca status-status kreatif tentang cinta pikir saya kadang memang terasa so sweett&#8230;tt, meski campur heran juga kok ya pede abisss ya?he2.., tapi kadang terlalu sweet juga, jadi jujur buat saya cenderung sayur, kurang sakral he2…belum lagi ditambah fotonya dan di tag pula ke seantero handai dan taulan…he2.</p>
<p>Lama-lama bisa jadi ada benarnya kata teman saya, “mbak sekarang katakan dengan bunga sich kelamaaaan… pake modal lagi, mendingan katakan dengan Fb “ hi2…</p>
<p>Ah, menyatakan cinta memang punya seribu satu cara, meski itupun terjadi di jaman purba. Maka saya tak heran lagi dengan polah tingkah teman-teman yang sedang kasmaran itu, mengingat sebenarnya pengertian tentang cinta memang butuh pengorbanan, mungkin bagi yang kasmaran; jangankan malu susah juga hayooo he 2 <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Apa sich cinta itu ? cinta adalah sebuah aksi/kegiatan aktif yang dilakukan manusia terhadap objek lain, berupa pengorbanan diri, empati, perhatian, memberikan kasih sayang, membantu, menuruti perkataan, mengikuti, patuh, dan mau melakukan apapun yang diinginkan objek tersebut (<a rel="nofollow" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jatuh_cinta" target="_blank">http://id.wikipedia.org/wiki/Jatuh_cinta</a>)</p>
<p>Cinta nggak semata-mata hanya kepada pasangan, dibedakan juga beberapa diantaranya :<br />
1. Cinta terhadap keluarga<br />
2. Cinta terhadap teman-teman, atau philia<br />
3. Cinta yang romantis atau juga disebut asmara<br />
4. Cinta yang hanya merupakan hawa nafsu atau cinta eros<br />
5. Cinta sesama atau juga disebut kasih sayang atau agape<br />
6. Cinta dirinya sendiri, yang disebut narsisisme<br />
7. Cinta akan sebuah konsep tertentu<br />
8. Cinta akan negaranya atau patriotisme<br />
9. Cinta akan bangsa atau nasionalisme</p>
<p>Sudah ah,.. kok ya serius amat membahas cinta<br />
Jelas-jelas konon cinta hanya bisa dirasa tidak dibahas dengan kata-kata, halaah.. lebay <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> …</p>
<p>Have a nice weekend dan,…<br />
Selamat bercinta, teman !!</p>
<p>Selamat menumpahkan kreativitas emosi dan jiwa untuk menyatakannya</p>
<p>Tetapi hindari cinta buta, karena cinta buta itu tidak dapat membedakan antara kemuliaan dengan kehinaan,</p>
<p>Bahkan katanya,.. tak ada yang lebih sengsara di bumi daripada orang yang kasmaran, ( www.eramuslim.com). Hayoooo…lhooo… <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> !!!!</p>
<p><em>* nama2 diatas fiktif belaka, maaf kalo ada yg sama ya <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </em></p>
<br />Filed under: <a href='http://eloktenan.wordpress.com/category/sekitar-ku/'>sekitar ku</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/eloktenan.wordpress.com/263/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/eloktenan.wordpress.com/263/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/eloktenan.wordpress.com/263/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/eloktenan.wordpress.com/263/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/eloktenan.wordpress.com/263/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/eloktenan.wordpress.com/263/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/eloktenan.wordpress.com/263/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/eloktenan.wordpress.com/263/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/eloktenan.wordpress.com/263/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/eloktenan.wordpress.com/263/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/eloktenan.wordpress.com/263/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/eloktenan.wordpress.com/263/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/eloktenan.wordpress.com/263/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/eloktenan.wordpress.com/263/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eloktenan.wordpress.com&amp;blog=7016960&amp;post=263&amp;subd=eloktenan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://eloktenan.wordpress.com/2010/02/04/cinta-cinta-cinta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/258c69b24b6f5b67c4a0812be5b9149b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">eloktenan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Partner Setia</title>
		<link>http://eloktenan.wordpress.com/2010/02/04/partner-setia/</link>
		<comments>http://eloktenan.wordpress.com/2010/02/04/partner-setia/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Feb 2010 06:35:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>eloktenan</dc:creator>
				<category><![CDATA[sekitar ku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://eloktenan.wordpress.com/?p=260</guid>
		<description><![CDATA[Pada suatu siang salah seorang teman nge-buzz via YM (Yahoo messenger) dan terjadilah percakapan itu : BUZZZ…. Teman : Lok !, apa kabar loe? Saya : Alhamdulillah aman, kowe piye? Teman : Sehat,, ! Saya : Tumben baru kelihatan, biasanya status FB mu, muncul melulu di hpku Teman : Baru bisa.. Saya : Rusak? Rung [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eloktenan.wordpress.com&amp;blog=7016960&amp;post=260&amp;subd=eloktenan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada suatu siang salah seorang teman nge-buzz via YM (Yahoo messenger) dan terjadilah percakapan itu : BUZZZ….</p>
<p>Teman : Lok !, apa kabar loe?</p>
<p>Saya : Alhamdulillah aman, kowe piye?</p>
<p>Teman : Sehat,, !</p>
<p>Saya : Tumben baru kelihatan, biasanya status FB mu, muncul melulu di hpku</p>
<p>Teman : Baru bisa..</p>
<p>Saya : Rusak? Rung bayar? Opo ra oleh bojomu?<span id="more-260"></span></p>
<p>Teman : Baru sempatttttttt…….</p>
<p>Saya : oooo…. dasyat bener sibuknya</p>
<p>Teman : Ya iyalah secara jadi upik babu, 3 anak masih piyik dan perut mau lahiran</p>
<p>Saya : Ha2.. piye?..piye? wah sama donk ya? Akupun termehek2 sudah beberapa minggu ini, mau ngantor, mesti bikin bekal anakku, udah habis ideku antara bikin spagetti, sop atau nasi goreng black nugget</p>
<p>Teman : Ha2… apa itu black nugget?</p>
<p>Saya : Lha agak gosong dikit, nggoreng nuggetnya,ha2,,, mau kerja, yang ini yang itu..mendadak meeting pagi, mumet, rush hour! He2…mulainya dari pagi buta pula</p>
<p>Teman : Hi2&#8230; emang enakkk&#8230; , aku baru dapet alhamdulillah makanya udah bisa eksis lagi hi2..</p>
<p>Saya : Oalahh&#8230; mbok kalo kamu ada, bagi ama aku?</p>
<p>Teman : Halahh&#8230; itu aja susahnya setengah mati, mintanya tinggi dah gue mau aja dah. Langsung gue acc. Kemaren sebelum gue ke Cina trus Thailand</p>
<p>Saya : Wah kalo susah cari disini, apa kalo pas kamu kesana, ngimport juga TKW dari sana? hi2&#8230;</p>
<p>Teman : Halahh&#8230; kalo gitu, yang di asuh ntar bapaknya</p>
<p>Saya : Ha2.. ada2 aja loe, ya yang STW (stengah tuwo) lah!</p>
<p>Teman : Hhmmm… ya..ya…mungkin kalo udah kepepet ..hi2.. Saya : Ha2,,, jadi negonya kayak ekspatriat ya? Hi2&#8230;.</p>
<p>Teman : Wadoowww&#8230; Persis!! mbk ditempatku dia mau tapi datangnya diatas jam 12. lha trus ngapainnn?? Aku ya udah selesai mandiin, bersih2 dan sarapan ketiga anakku to ya !!!, temanku malah pembantunya mau datang, asal pas dia kerja, rumah dikosongkan, juragan pergi dulu hi2&#8230;</p>
<p>Saya : He2&#8230; sama, ditempatku katanya hari minggu dan tanggal merah, bilangnya dia &#8220;off dulu&#8221; dan kerja tidak lebih dari 1 jam</p>
<p>Teman : Ha2&#8230; kayaknya rewelnya udah kayak loe, lagi di interview hi2&#8230;</p>
<p>Saya : Hi2.. rese loe! lha gimana lagi, si mbak partner setia yang dulu balik kampung ndak balik lagi.</p>
<p>Temen : Lha kenapa?</p>
<p>Saya : Ya.. katanya, krasan ama gue, tapi apa daya kata suaminya suruh di kampung aja, jagain anaknya masih kecil…kerja pabrik aja gaji sama, dinaikkin gaji ya nggak mempan, tau lah !</p>
<p>Temen : Ha2.. iya, mbk ku dulu katanya, kerja di pabrik aja, gaji banyakan, biar cepet bisa beli hape yang &#8220;seperti&#8221; BB (Blackberry)</p>
<p>Saya : Ha2… masa sech</p>
<p>Temen : Tau dah udah pada kebanyakan sinetron!</p>
<p>Saya : Hi2&#8230; suka sms2 mulu kalo ngemong bocah yo?, tinggal account FB aja yang belum dibikin</p>
<p>Temen : Ah loe kireeee&#8230;..</p>
<p>Saya : Kire ape?</p>
<p>Temen : Pembantunya temenya temenku, diperkosa gara2 janjian ama orang gak dikenal via FB!!</p>
<p>Saya : Halahhhh….. duch aku tambah mumettt!! Ya sudahlah kita hentikan saja bahasan ini, biar nanti jadi Tajuk Rencana Kompas atau apa itu?&#8230; Apa Kabar Indonesia! di TV he2&#8230;deggggg…..</p>
<p>Temen : hi2…iya..iya c u !!!!!!!!!!!!!</p>
<p>Dan usailah sudah percakapan kami… Duch si mbak, seperti kata teman-teman saya yang lebay berkata, hadirmu semakin berarti saat kau tidak hadir disini, itu benar-benar terjadi hi2.. Carut marut semua jadwal hidup ini, harus menjadi manusia yang flexible hingga anak saya hapal kata-kata saya, “tidak boleh cengeng, hidup adalah perjuangan” ha2…</p>
<p>Sejatinya bagi saya adalah tidak ada yang perlu diherankan bila kini kamu doyan ketak-ketik sms atau online mulu, atau ngimpi beli BB, minimal yang mirip BB. Beli kalung dan rambutnya dipanjangin kayak Sinetron Cinta Fitri, atau beli kaos Luna Maya.</p>
<p>Bener-bener kamu dan aku sama-sama punya hak yang sama. Bahkan bisa-bisa keinginan itu semakin besar buatmu, karena kamu lebih banyak lihat TV daripada saya, paling-paling bedanya kebetulan aku yang gaji, kamu yang tak gaji. Kita punya job desc masing-masing, supaya konsep “take and give” nya kita benar-benar jadi simbiosis mutualisme.</p>
<p>Hanya saja, begitu deras pengaruh itu juga sampai merambah seleramu, hingga bisa jadi yang dulu cukup kini tak tampak cukup lagi bagimu, yang dulu tidak kau impikan kini kau jadikan keinginanmu juga, tawaranku sudah tidak begitu indah bagimu…,atau kebutuhan hidup ini sudah sedemikian juga menghimpitmu, ah entahlah.. dan kekuatan silaturahmi itu entah pergi kemana, sehingga cerita seperti aku kecil dulu; punya partner setia, membantu ibuku menjagaku dari kecil sampe kuliah, duch.. sekarang jadi sesuatu yang langka</p>
<br />Filed under: <a href='http://eloktenan.wordpress.com/category/sekitar-ku/'>sekitar ku</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/eloktenan.wordpress.com/260/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/eloktenan.wordpress.com/260/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/eloktenan.wordpress.com/260/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/eloktenan.wordpress.com/260/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/eloktenan.wordpress.com/260/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/eloktenan.wordpress.com/260/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/eloktenan.wordpress.com/260/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/eloktenan.wordpress.com/260/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/eloktenan.wordpress.com/260/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/eloktenan.wordpress.com/260/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/eloktenan.wordpress.com/260/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/eloktenan.wordpress.com/260/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/eloktenan.wordpress.com/260/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/eloktenan.wordpress.com/260/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eloktenan.wordpress.com&amp;blog=7016960&amp;post=260&amp;subd=eloktenan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://eloktenan.wordpress.com/2010/02/04/partner-setia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/258c69b24b6f5b67c4a0812be5b9149b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">eloktenan</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
